This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 06 Januari 2019

6. Cari Provider yang Mendukung Kegiatan Daring


Tinggal di pedesaan ada plus dan minusnya. Plusnya sudah kubahas di cerita sebelumnya. Dari air yang melimpah, pangan yang sehat, sayuran tinggal metik di halaman, hingga udara bersih. Aku menikmati semuanya. Tentu dengan perjuangan tiada henti.

Proses adaptasi sudah kujalani. Sekarang tinggal mengakali bagaimana kehiduoan di sini tidak membosankan. Setidaknya pekerjaan daring tetap bisa kulakukan. Maklum, di desa. Bisa telepon dan SMS bagi masyarakat desa sudah cukup. Aku masih membutuhkan gawai untuk menunjang kegiatan menulis dan bisnis. Apalagi selama ini banyak orang sudah mengenalku sebagai konsultan Indscript. Akan banyak kegiatan daring yang kulakukan.

Memilih provider yang ramah di kantong, awalnya tidak pernah mampir di benak. Pasalnya, pulsa dan kuota masih banyak. Seiring berjalannya waktu, pulsa dan kuota internet pun habis. Aku dan suami pun mulai berburu provider yang mendukung kegiatan daringku.

Semua provider pun dicoba. Satu per satu kumasukkan ke gawai. Dari yang termurah sampai mahal. Terutama ketika jam sibuk. Bagaimana koneksi tetap lancar agar bisnis pun meroket.

Ada yang koneksi lancar, tetapi harga pulsanya sangat mahal. Tentu aku tidak mau ambil risiko untuk yang ini. Apalagi aku suka main aplikasi daring. Bisa-bisa sebulan beli pulsa lebih dari dua kali. Pengeluaran untuk pulsa akan semakin banyak.

Di Kota Tangerang, terkadang aku dapat pulsa dari menulis review pengajian. Namun, sudah hampir sebulan tidak ada lagi permintaan menulis review. Jadi, pulsa terpaksa beli. Lumayan menguras kantong karena provider yang kupakai sangat boros dan kuotanya terbatas.

Providerku yang lama tidak bersahabat dengan sinyal. Berulangkali terjadi kendali. Untuk mngunduh gambar, mutarnya lama banget. Jelas itu sangat menganggu kegiatan daring. Belum lagi di Indscript dituntut koneksi yang lancar. Kecepatan melayani pelanggan dan komunikasi antara pemilik Teh Indari dengan konsultan, membuatku akhirnya memilih provider yang harian dengan kuota besar.

Kuota yang besar menunjang kegiatan daring dan pembuatan flyer. Selama ini selain dapat dari Indscript, aku juga bikin gambar sendiri. Otak atik gamabar pakai canva, picsart, snapseed, dan sebagainya.

Akhirnya sampai pada pilihan provider yang nyaman buatku. Providernya tidak perlu disebutkan (nanti dikira iklan, wong nggak dibayar).

Provider yang kupakai sekarang, terkadang sinyalnya masih datang dan pergi. Maka, aku mulai menuliskan di buku. Pada pukul berapa provider  ngambek? Bagaimana mencari solusi yang menyenangkan. Akhinya aku membagi waktu. Kapan daring dan luring?

Waktu paling enak untuk daring adalah pukul 01.00-06.00. Waktu setelah itu sinyal sangat ramah. Maka, semua kegiatan kupindah sebelum Subuh. Aku pastikan sebelum pukul 06.00 semua postingan kelar, surat terkirim, riset pun sudah selesai. Siang aku tinggal membuat mind map, tulisan untuk esok hari, dan riset.

Semoga dengan provider sekarang, pekerjaan daringku semakin lancar. Amin.
#ODOP #estrilook  #day6


Sabtu, 05 Januari 2019

5. Pindang Kerbau Khas Kudus

                                                   foto: cookpad.com
Kudus memang terkenal dengan soto kerbaunya. Kapan-kapan kubahas tentang salah satu soto yang terkenal di Kudus. Kali ini aku mau membahas lanjutan tulisan kemarin. Tentang menu makanan berat khas Kudus ketika sedang hajatan.
Bila selama ini mengenal pindang ikan patin atau bandeng, di Kudus beda lagi. Pindang kerbau menjadi menu wajib hajatan. Sayangnya kemarin pas tetangga sedang ada hajatan, tidak sempat melihat prosesi penyembelihan kerbau. Apalagi melihat cara masak pindang. Namun, aku sempat makan pindang kerbau ini.
Sekilas pindang kerbau seperti rawon. Warnanya pun sama cokelat. Pengaruh dari keluak, sejenis bumbu yang membuat makanan menjadi cokelat. Rasanya gurih dan manis.
Kerbau memang dipilih masyarakat Kudus sebagai pengganti sapi. Semua pasti sudah mafhum, di Kudus, sapi tidak dipelihara. Hal ini sudah tradisi turun temurun menghormati keyakinan agama Hindu. Sebuah ajaran toleransi yang sudah mengakar di masyarakat. Hingga kini, tradisi ini masih dilestarikan.
                Daging kerbau lumayan enak. Aku pun belajar menikmati daging kerbau. Biasanya setelah disembelih dan dikuliti, posisi badan kerbau digantung di dekat tempat masak. Nanti sudah ada orang yang ditunjuk tuan rumah untuk mengolah daging tersebut menjadi pindang.
                Pindang Kudus kaya akan rempah yang akan membuat nambah. Bila tidak percaya, datang saja ke Kudus untuk mencicipinya. Warung makan yang menjual menu ini juga sudah banyak. Mau yang gratisan? Datang ke saudara di Kudus yang sedang hajatan.
                Penasaran ingin membuatnya? Bisa kok. Kalau tidak menemukan daging kerbau bisa diganti daging sapi. Beberapa restoran Jakarta sudah melakukan hal itu. Mungkin karena daging kerbau sangat sulit didapatkan di ibu kota negara.
                Aku coba memberikan resep yang kuambil dari cookpad.com, karya Nugraheni Septiningtyas.

                                              Resep Pindang Kerbau Kudus

             Bahan-bahan
            200 gr daging kerbau dan sedikit sanding lamur yang sudah direbus

200 ml kaldu dari rebusan daging kerbau

100 gr daun so (daun melinjo) muda
500 ml santan kelapa

Bumbu :
8 siung bawang merah
3 siung bawang putih
3 butir kemiri
2 buah keluak / kluwek yang diambil isi nya lalu disedu dg air panas
1 cm jahe memarkan
1    lembar daun salam
2        lembar daun jeruk purut
1 sdt garam
1       sdt jinten
1        sdt ketumbar
Sedikit pala
2        sdm gula merah
1       sdm asam jawa disedu dengan air panas sedikit kurang lebih 2 sdm
Sejumput terasi
Secukupnya minyak goreng untuk menumis

Pelengkap :
Bawang goreng, sambal cabai rawit rebus, kecap

Langkah membuatnya:
1.   Haluskan bawang merah, bawang putih, kemiri, keluak, garam, jinten, ketumbar, pala, terasi.
2. Tumis bumbu yang dihaluskan, masukkan daun salam, daun jeruk, jahe sampai harum lalu masukkan air asam.
3. Kemudian daging, kaldu dan santan dimasukkan ke dalam panci sayur lalu rebus hingga mendidih dengan sambil diaduk untuk menjaga santan agar tidak pecah.
4.   Masukkan bumbu yang telah ditumis dan gula merah.
5. Koreksi rasanya sesuai selera bisa ditambah kaldu bubuk. Ciri khasnya pindang di kudus cenderung manis.
6.    Penggorengan bekas menumis bumbu bisa digunakan lansgung untuk merebus daun melinjo.
7.  Sajikan dengan nasi dan pelengkapnya daun melinjo yang telah direbus, sambal soto (cabai rawit merah atau putih direbus terus diuleg), taburan bawang goreng, dan kecap sesuai selera.
8.  Enaknya dimakan panas. Jika telah dingin bisa dipanaskan kembali.
Demikian resep pindang kerbau kudus. Selamat mencoba!
#ODOP #estrilook  #day5


Jumat, 04 Januari 2019

4. Rewang Menjaga Tradisi Gotong Royong di Desa Undaan


Hidup di desa memang enak. Apalagi setiap ada hajatan, pasti semua tetangga membantu. Tradisi gotong-royong masih mengakar kuat di desa. Berbeda dengan di kota yang cenderung sendiri-sendiri. Bahkan tetangga depan rumah pun tidak kenal. Di desa sebaliknya. Semua kenal satu sama lain. Kalaupun tidak kenal, biasanya karena sudah merantau lama di ibukota. Maklum di desa ada setiap tahun pasti ada kelahiran dan kematian. Aku pun termasuk yang tidak hafal dengan pendatang baru.
Aku sekarang tinggal di Desa Undaan Kidul. Kebetulan kemarin ada hajatan di sebelah rumah. Ada tradisi namanya rewang (Bahasa Jawa) artinya bantu, bukan pembantu. Rewang artinya membantu orang yang punya hajat. Bantuannya berupa tenaga dan materi. Selain membantu tenaga dari awal hingga akhir acara, biasanya ketika datang pertama orang yang mau rewang membawa barang atau uang.
Nominal uang atau barang mengikuti adat kebiasaan setempat. Tentu saja seiring dengan perkembangan zaman. Masing-masing desa mempunyai ukuran berbeda. Desaku sebelumnya Kwatangan, menggunakan uang untuk membantu orang yang hajatan. Sedangkan Desa Undaan Kidul menyumbang barang berupa beras, mi, dan gula pasir. Bila masih saudara ditambah uang.
Di Undaan, kalau ada hajatan, hampir sedesa datang untuk rewang. Biasanya mereka datang sehari sebelum hari H. Acara dimulai dengan mengirimkan nasi ke seluruh penduduk desa. Nasi ini ditempatkan di panci/tempat nasi dari plastik. Isinya nasi, lauk, sncak, dan krupuk. Setelah itu dibungkus dalam tas plastik.
Aku kebagian membantu menyiapkan snack untuk esok hari. Padahal di Kota Tangerang tidak pernah membuat snack. Untung cuma bantu di bagian lemper. Makanan yang terbuat dari ketan dengan isian srundeng manis. Orang-orang sempat menggodaku. Mungkin karena aku lama di kota, dikira tidak bisa memasak. Alhamdulillah masih bisa bantu membungkus lemper.
Paginya aku masih rewang. Kali ini kebagian di depan kompor. Masih membantu membuat snack. Ada wingko goreng, bakwan, dan pisang goreng. Soal wingko ini ada ceritanya. Rencana mau dibuat bentuk bulat, tetapi tidak bisa. Adonannya terlalu lembek. Jadi, daripada mubazir, dibuatlah wingko goreng. Luamayan dapat ilmu baru. Rasanya sama dengan wingko khas Semarang. Adonannya juga sama. Perbedaannya di cara memasak. Wingko Semarang dibakar, wingko Undaan digoreng.
Makanan yang dibuat untuk hajatan ukurannya dibuat kecil. Cara penyajian diletakkan di piring dan disuguhkan di meja. Ada yang bertugas menata dan menyajikan kue.
Di hari H, untuk makan dan snack boleh ambil sendiri. Di Undaan, hajatan rata-rata prasmanan. Namun, ada petugas yang mengambilkan. Soal menu, tergantung kepada tuan rumah yang punya hajat.
Menu andalan pindang daging kerbau. Dari segi warna seperti rawon, hanya dari rasa sangat berbeda. Pindang daging kerbau lebih mak nyus. Penasaran, kan? Datanglah ke Kudus. Pasti akan ketagihan makanan pindang ini.
Perewang boleh pulang setelah tidak ada yang dikerjakan. Jadi, tidak harus menunggu hajatan selesai. Soalnya hajatan di sini bisa sampai malam. Bisa tepar kalau dituruti.
Esok paginya hanya beberapa orang yang rewang, karena tinggal bersih-bersih. Biasanya yang rewang hari sebelumnya dikirimi nasi sepanci dan lauk. Itulah tradisi rewang di Desa Undaan yang masih dipelihara. Aku senang masih bisa menyaksikan tradisi yang masih hidup hingga saat ini.
Aku tidak menyesal pindah ke Undaan. Ini pengalaman terindah. Menjadi Blogde alias blogger ndeso. Tunggu kisahku besok. Masih dari Desa Undaan.

#ODOP #estrilook  #day4

Kamis, 03 Januari 2019

3. Hajatan ala Orang Desa Undaan

Suara lagu dari speaker tetangga sebelah rumah terdengar jelas. Lagu dangdut yang dinyanyikan oleh artis ibukota menyambut pagiku. Sejak semalam aku sudah melihat tenda yang berdiri tegak di jalan dekat rumah. Warna tenda putih dilengkapi dengan meja dan kursi.
Para tetangga nampak hilir mudik di sekitar rumah tetangga. Suami sudah memberitahu semalam.
“Mbak Sumi tetangga sebelah menikahkan anaknya.”
Aku mengangguk. Bagiku pendatang sepertiku, belum tahu adat di Desa Undaan. Aku hanya mengikuti petunjuk suami. Badanku pun masih penat dari kemarin. Rasanya tulangku masih lemas, belum siap kalau diajak bekerja keras.
Andai bukan tetangga, rasanya aku malas datang. Apalagi aku baru menapakkan kaki di daerah ini. Masih banyak hal yang belum kuketahui.
“Adik harus bawa apa?” tanyaku pada suami.
“Bawa diri saja.” Suamiku menjawab asal.
“Adik tidak enaklah kalau cuma tangan kosong,” kataku.
“Nanti ikut emak saja.”
Suami masih belum menjelaskan. Emak memang sudah dari kemarin membantu di tetangga sebelah. Istilah di sini rewang. Sama dengan istilah di tempatku Desa Kwatangan, Bantul.
Emak membawa beras, mi, dan gula pasir. Tradisi Undaan begitu. Makanan tersebut diletakkan di panic ukuran sedang. Istilah di sini tembor.
Ketika sampai ke tempat Mbak Sumi, tembor diserahkan. Nanti pas pulang, tembor sudah diisi dengan nasi, seplastik gulai kerbau, dan snack.
Aku datang dengan adik ipar. Suami memintaku membawa uang saja. Aku mengiyakan. Kuberikan uang yang kubawa kepada tuan rumah. Di sini yang istri bawa uang, nanti suami juga bawa uang pas acara tahlilan. Nominal uangnya lebih sedikit dari istri.
Sampai di rumah yang punya hajat, langsung diberikan snack dan minuman. Tak lama nasi dan lauk gulai daging kerbau dihidangkan. Di Kudus kalau hajatan bukan sapi yang disembelih, tetapi kerbau. Hal ini merupakan tradisi turun temurun. Dari sejak zaman walisanga tidak ada penyembelihan sapi. Kalau kerbau diperbolehkan. Sunan Kudus sangat menghormati kaum Hindu. Sehingga, tidak ada sapi yang disembelih hingga hari ini.
Minuman yang dihidangkan saat hajatan adalah teh botol. Ini berlaku hampir di seluruh wilayah Kudus. Masyarakat Kudus tidak mau repot dengan mencuci gelas. Belum lagi kalau ada gelas yang pecah. Maka pilihan teh botol adalah alternatif yang paling tepat.
Makanan yang terhidang di meja adalah kue yang dibuat oleh para tetangga. Ada yang digoreng seperti pisang goreng, bakwan, kue bugis, dan lemper. Semua disajikan di piring dan diletakkan di atas meja. Minuman teh botol juga dihidangkan di meja. Jadi, tamu yang ingin minum, tinggal ambil saja.
            Tuan rumah akan menyambut tamu di depan. Makanan berat berjejer dan ada yang melayani. Para pelayan ini adalah pemuda dan pemudi yang dibayar untuk seharian. Biasanya di Undaan dari pagi sampai malam. Termasuk bagian sound system dan diesel.
      Aku sendiri tidak bisa membayangkan kalau hajatan model seperti ini. Berhari-hari dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi yang datang banyak banget. Bakal capek berhari-hari.

#ODOP #estrilook  #day3

Rabu, 02 Januari 2019

2. Adaptasi dengan Suasana Desa


Dingin menusuk tulang. Itu pagi pertama di Undaan. Badan pun masih pegal efek macet paska peresmian jalan tol lintas Semarang. Perjalanan dari Kota Tangerang yang harusnya sampai pukul 20.00 WIB, molor menjadi 22.30 WIB. Bus yang kutumpangi hanya berhenti sekali di Kedung Roso, Brebes. Setelah itu bus langsung tancap ke Tegal. Praktis sepuluh jam tanpa henti. Perut lapar dan mata mengantuk. Sampai rumah, aku langsung tidur.
Adaptasi di desa yang baru. Nama desanya Undaan Kidul. Mayoritas bermata pencaharian petani. Bahkan di belakang rumah padi menghijau memanjakan mata. Desa sepi. Semua penduduk sudah terlena dalam mimpi.
Sawah ibu mertua memang pas di belakang rumah. Begitu buka jendela dapur yang belum jadi, padi yang sedang tumbuh terlihat jelas. Pohon pisang berdiri di sepanjang jalan menuju sawah. Kebanyakan pisang kapok yang harganya mahal.
Ada rasa kangen dengan suasana kota. Terutama hiruk pikuknya. Di desa waktu serasa berhenti. Perjalanannya begitu melambat. Bila di Kota Tangerang, bangun pagi langsung bersiap ke kantor, menyiapkan sarapan, mandi, dandan, dan berjalan ke kantor.
Di desa aku menikmati ketenangan. Tidak ada hiruk pikuk atau suara pedagang menjajakan dagangan. Pagiku berubah. Selesai salat Subuh, aku bisa tidur lagi. Namun, itu tidak kulakukan. Kebiasaan sejak kecil yang terbangun pukul 03.00 WIB, membuat mataku tetap melek. Hanya pagi pertama, aku masih tiduran di atas kasur. Rasanya enggan bangun.
 Suara bising kendaraan semalam masih terngiang di telinga. Demi taat kepada suami, kutinggalkan Kota Tangerang dengan semua kenangan yang pernah ada.
Enaknya hidup di desa, air tidak beli. Semua pakai air sumur. Biasa menghemat air, di rumah kontrakan, kini aku menikmati air yang melimpah, bersih, dan gratis. Aku tidak perlu begadang menunggu air. Selama empat bulan di rumah kontrakan, bisa dipastikan aku dan suami hidup hemat air. Apalagi air kadang hidup, kadang mati. Jadilah kami membeli bak penampungan air untuk memenuhi kebutuhan mandi dan cuci baju. Untuk minum, ya beli air galon bermerek.
Desaku sekarang bebas polusi. Apalagi suami sudah lama tidak merokok. Udara yang kuhirup sangat segar dan menyehatkan. Cocok untuk terapi hidup sehat. Pepohonan rindang, sungai jernih, rumput yang menghijau, dan tegur sapa masyarakat desa. Damai rasanya.

#ODOP #estrilook  #day2

Selasa, 01 Januari 2019

1. Bali Wae Ning Ndeso (Pulang Saja ke Desa)


Ini adalah perjalanan panjang yang membutuhkan pemikiran matang. Apalagi bagiku yang sudah akrab dengan kehidupan kota sekian tahun lamanya. Wacana pulang kampung sudah bergulir sejak kakakku sakit dua tahun lalu. Aku yang saat itu belum menikah, mulai galau Antara ikut pulang ke desa atau tetap bertahan di kota. Selama ini aku tinggal dengan kakak. Kalaupun berjauhan itu karena tugas.

Aku terbiasa hidup merantau. Dari Bantul ke Kota Tangerang, lalu ke Bireun, berlanjut ke Pidie, pulang ke Kota Tangerang, dan bekerja di Tangerang Selatan. Membayangkan hidup desa itu jauh dari pikiranku.

Hari berlalu. Solusi pun sudah kudapat. Andaikan kakak harus tinggal di desa, aku memilih tetap tinggal di kota. Rasanya aku belum sanggup meninggalkan kemewahan kota. Aku terbiasa pindah dari satu tempat ke tempat lain, walaupun dengan angkot ataupun transportasi daring.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. September 2018 aku menikah. Mau tidak mau harus mengikuti suami kembali ke kampung halaman. Dan tepat di awal tahun seluruh hidupku berubah. Aku menjadi orang desa. Jauh dari hiruk pikuk kota. Semoga aku bisa betah di desa. 

Semua dalam hidupku berubah total. Dari gaya hidup, makanan, minuman, dan sebagainya. Baju yang kupakai pun tidak bisa seperti waktu di kota. Akan seperti apa hari-hariku mendatang? Simak terus ceritaku. 
#ODOP#estrilookcommunity#day1

Kamis, 06 Desember 2018

Lestarikan Pusaka Peninggalan Nenek Moyang di Museum Pusaka



Tanggal 27 Oktober 2018, saya berkesempatan mengunjungi Museum Pusaka karena diundang oleh mbak Dewi Yuliyanti dari Kemendikbud dalam acara Gebyar Pesona Museum Nusantara ke-4 mewakili Wonderland Family. Acaranya berlangsung dua hari, namun saya memilih datang di hari pertama.
Hujan mengguyur bumi, ketika saya sampai di lokasi. Acara talkshow fotografi pun sudah berlangsung. Arbain Rambey terlihat menjelaskan tentang kriteria fotografi budaya. Beliau juga menjelaskan kriteria foto yang menjadi pemenang lomba. Ada empat hal yang dinilai yaitu foto yang indah, bagus, menarik, dan berbicara.
Usai talkshow ada jeda istirahat yang saya gunakan untuk menjelajahi Museum Pusaka. Kali ini saya hanya mengunjungi lantai satu.
                             koleksi fuatuttaqwiyah

Lokasi Museum

Museum Pusaka terletak di jalur Selatan Taman Mini Indonesia Indah. Lokasi tepatnya berada di antara bangunan museum lainnya yaitu Museum Keprajuritan Indonesia, Museum Serangga, serta  Taman kupu-Kupu. Bentuk  bangunan limas ini terlihat lain dibanding dengan bangunan yang ada di sekitarnya. Kekhasan gedung terlihat dari atap yang terdapat bentuk keris yang menjulang.

Tujuan Pendirian Museum

Tujuan  Museum ini dibangun adalah untuk melestarikan, merawat, mengumpulkan, serta menjadi pusat informasi mengenai  budaya seperti senjata tradisional. Jenis  pusaka  yang ada di nusantara jumlahnya tidaklah sedikit. Pelestarian budaya menjadi sangat penting dilakukan guna memberi informasi kepada generasi penerus bangsa agar menjadi suatu  kebanggaan tersendiri  terhadap kekayaan budaya  bangsanya.  Di samping itu  dapat dimanfaatkan sebagai salah satu referensi studi dan penelitian mengenai senjata.
Mas Agung mengisi Museum Pusaka ini dengan koleksi pribadinya pada awal museum berdiri. Seiring dengan berjalannya waktu koleksi pribadi tersebut dihibahkan oleh Sri Lestari Mas Agung kepada Ibu Tien Soeharto selaku ketua Yayasan Harapan Kita. Selanjutnya untuk melengkapi koleksi, dilakukan dengan jalan pembelian  sehingga memiliki koleksi pusaka tradisional  dari 26 provinsi di Indonesia.. Dengan koleksi yang ada, museum ini bisa dibilang yang paling lengkap.
Museum Pusaka  terdiri dari dua lantai yang memiliki beberapa ruang, yakni ruang pameran, ruang informasi, ruang pengelola, ruang pertemuan, perpustakaan, ruang konservasi, dan ruang cinderamata.

Koleksi Museum Pusaka

Museum Pusaka ini setidaknya memiliki  5.749 koleksi benda pusaka, tetapi tidak semua koleksi dipamerkan semuanya. Beberapa koleksi disimpan dan dipamerkan sesuai giliran. Ruang pameran yang berada di lantai dua bersifat permanen. Adapun ruang yang berada di lantai satu disesuaikan dengan tema pameran yang berdurasi dua bulan. Adapun koleksi yang ada sebagian besar didominasi pusaka berupa keris. Hal tersebut dikarenakan keris hampir dimiliki oleh setiap daerah yang ada di tanah air dengan segala ciri khasnya masing-masing.
Disamping keris, museum ini juga mengkoleksi pusaka lain seperti badik, kujang, rencong, pedang, siwah, keris Bali, tombak, parang, dan lainnya.
                                        koleksi fuatuttaqwiyah


Koleksi Unggulan

Dari semua koleksi yang dimiliki oleh Museum Pusaka, ada beberapa koleksi pusaka yang menjadi unggulan, yaitu keris yang diberi nama Betok Budho yang beratnya sekitar 250 gram dan panjangnya 26 cm. Pusaka ini termasuk yang tertua. Konon berasal dari abad 8 yang bertepatan pada zaman Hindu-Budha yang berasal dari Klaten Jawa Tengah.
Ada pula pedang terpanjang yang mencapai 1,76 meter dan mendapat penghargaan dari MURI. Ada pula pusaka berupa keris dari zaman kerajaan Majapahit pada abad 8. Konon keris tersebut terbuat dari besi, baja, dan batu meteor.
                               koleksi fuatuttaqwiyah

Pusaka-pusaka tersebut merupakan kekayaan budaya khas nusantara. Di dalam pusaka mengandung nilai filosofis dan spiritualitas yang sangat tinggi. Sang pembuat pusaka yang akrab dijuluki sebagai empu juga bukan sembarang orang.
Empu dalam kamus KBBI ada dua pengertian yaitu satu, gelar kehormatan yg berarti "tuan"; dua, orang yang sangat ahli (terutama ahli membuat keris). Pusaka, khususnya keris biasanya memiliki energi khusus yang ditimbulkan tidak semata-mata dari material pembuatnya, tetapi yang terpenting adalah dalam proses pembuatannya. Seorang empu harus mempunyai spiritual yang tinggi, sehingga lantunan doa yang dipanjatkan mudah terkabul.
Museum Pusaka juga menggelar prosesi kirab budaya keliling TMII, yang diikuti oleh kebo bule, prajurit, gajah, dan tidak ketinggalan yaitu tumpeng. Kirab budaya tersebut merupakan salah satu cara untuk  melestarikan budaya nenek moyang yang sangat berharga  dan tidak ada duanya di dunia. Keris telah diakui oleh UNESCO pada 25 September 2005.
Di Museum Pusaka kita bisa belajar banyak tentang sejarah pusaka yang menjadi warisan budaya. Koleksi pusaka dikaji dan diteliti sejarah asal usulnya. Hal tersebut sangat penting untuk dipublikasikan dan disampaikan kepada para pengunjung.
Khusus para penggemar benda pusaka, Museum Pusaka juga melayani pemesanan pembuatan keris dan lainnya. Jam buka museum dimulai dari pukul 08.00-16.00 WIB. Harga tiket Rp10.000,00. Untuk transportasi ke museum bisa menggunakan bus Trans Jakarta jurusan Taman Mini Indonesia Indah. Jangan lupa siapkan stamina, karena jarak pintu masuk ke Museum Pusaka sangat jauh bila berjalan kaki.
Acara hari itu ditutup dengan Dramatari Sumpah Putra Nusantara yang sangat menarik. Pertunjukan berdurasi satu jam tersebut begitu memukau penonton

                                     koleksi fuatuttaqwiyah
 Mari kita lestarikan pusaka warisan adiluhung bangsa. Terima kasih Kemendikbud, Museum Pusaka, mbak Dewi Yuliyanti, dan Wonderland Family. 
#cagarbudaya
#budayabangsa