This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 04 Februari 2020

Buku Merindu Baitullah (Behind The Scene)


Buku ini merupakan antologi keempat Nderes Literasi. Ada 66 puisi dari 23 penulis. Isi buku adalah kerinduan terhadap Baitullah. Harapan para penulis adalah agar bisa segera ke Baitullah.

Niat awal membuat antologi ini adalah ingin mengisi bulan Zulhijjah. Tahun sebelumnya aku membuat antologi Kurban dan Kepekaan Sosial. Kalau membuat tema yang sama, pasti sudah basi. Pas lihat keberangkatan jemaah haji, ide menulis tentang Baitullah melintas.

Biar beda yang lain, kubuat antologi ini khusus buat yang belum pernah ke Baitullah. Jadi, bukan untuk orang yang sudah ke Baitullah. Walaupun beberapa peserta sudah pernah ke sana. Termasuk aku.

Pertanyaan Calon Peserta Audisi Merindu Baitullah


Banyak pertanyaan yang masuk ketika buku ini sedang proses pengumpulan naskah. Rata-rata pertanyaan tentang apakah harus sudah pernah ke Baitullah. Kujawab satu per satu pertanyaan dengan tenang. Meskipun aku harus mengulang-ulang jawaban.
Proses pengumpulan puisi Merindu Baitullah tidak mudah. Beberapa orang mundur teratur. Itu hal lumrah dalam sebuah proses audisi naskah. Ada juga yang bertahan hingga selesai. Aku pun tidak menyangka terkumpul penulis sebanyak itu.

Penerbitan Buku Merindu Baitullah

Pada akhirnya buku ini terbit di bulan Desember 2019, sebulan setelah proses ISBN dan pre order. Alhamdulillah cetakan pertama sold out. Aku sangat bersyukur akan hal itu. Kalau peminatnya banyak, aku berencana cetak kedua. Semoga ada yang mau pesan dalam jumlah banyak. Amin.

Cerita Para Penulis

Salah satu penulis mbak Susi, menulis puisi menjelang keberangkatan ke tanah suci. Alhamdulillah semua naskah terkirim sebelum beliau menginjakkan kaki ke tanah suci. Ada naskah tambahan yang dikirim sesudah beliau pulang dari sana.

Mbak Mary A berangkat umrah bareng suami ketika buku Merindu Baitullah masih tahap editing. Lagi-lagi aku hanya mampu bersyukur dan terharu. Beliau bercerita dengan terharu. Aku sampai merinding membaca ceritanya.

Satu lagi penulis yang berangkat ke tanah suci. Mbak Rini ketika buku masih proses cetak. Bibirku tiada henti bersyukur. Apa yang kuharapkan satu per satu menjadi kenyataan. Satu per satu penulis buku Merindu Baitullah bisa ke tanah suci.  Amin.
Surabaya, 04 Februari 2020

Cerita ini diikutkan dalam Event #29HTMNderesLiterasi
#29HTMNderesLiterasi
#NderesLiterasi
#MenulisMengabadikanKenangan

#Hari-4

Kamis, 30 Januari 2020

Menjejak Karya Di Bumi Indonesia



Salah satu resolusi yang belum kesampaian itu mengisi blog. Entah kenapa bawaanya malas. Padahal kalau diluangkan pasti bisa. Terakhir kuisi masih tahun lalu. Maunya konsisten seminggu sekali. Lha kok malasnya itu lho. Enggak ketulungan. Apalagi awal-awal adaptasi di Kota Surabaya. Sumuk tenan (panas banget). Padahal Kota Kudus enggak jauh beda. Sama panasnya dengan kota pahlawan.

Ketika ada Tantangan Alumni Blog IIDN Edisi Januari 2020, aku mencoba ikut. Tujuannya biar blog terisi. Lumayan satu postingan di awal tahun. Temanya pun enggak susah kok. Tentang Gue Banget.
Bicara diri sendiri itu gampang-gampang susah. Bagi yang belum kenal, pasti mengira aku itu pendiam. Padahal aslinya aku itu cerewet banget. Biasa kalau di awal kenal, suka jaim gitu. Lha masak langsung ngomong banyak. Bisa ilfill nanti.

Penulis Bukanlah Cita-citaku


Dari awal menggunakan media sosial, penjenamaanku sebagai penulis. Hobiku memang menulis. Asal tahu saja aku sudah mulai ini sejak aku SD. Kebayang enggak sih aku masih usia 8 tahun sudah menulis Derita Anak Hartawan. Tulisan itu masih ada lho. Cuma lupa ditaruh di kotak yang mana. Maklum pindahan dari Kota Tangerang ke Kudus, semua barang pindah.

Kalau bicara cita-cita menulis tidak termasuk dalam jangkauan imajinasiku. Aku kecil terbiasa membaca majalah Ananda, Bobo, Nova, dan bacaan yang lain. Koran pembungkus bumbu pun juga kubaca. Kasihan banget ya aku.

Waktu di pesantren, aku nulis di buku agenda. Sok gaya banget. Padahal untuk membeli buku agenda aku harus puasa berhari-hari. Zaman itu kehidupanku minus banget.

Ada masa aku tidak menulis. Ketika kuliah dan awal kerja. Orientasiku kan duit. Enggak munafiklah. Orang kerja kan tujuannya itu. Cari duit. Makanya nulis masuk ke hal yang kesekian atau bahkan tidak terlintas oleh angan.

Aku nulis lagi waktu dinas di Aceh. Jauh dari orang tua, paska patah hati pula. Uups, buka kartu deh. Tulisanku pun mengalir. Kayak air saja. Jadilah banyak buku kutulis. Ya masih antologi. Buku solo masih menjadi mimpi.

Di kota berjuluk Serambi Makkah itu aku beberapa kali menang lomba menulis lho. Juara II Menulis Cerpen Guru, Juara II Lomba Menulis Cerpen Tsunami, Juara I Lomba Menulis Surat Cinta Last Momen, dan ditutup Juara Lomba Menulis Guru Mizan 2012.

Tahun 2013 aku sempat terlena. Sampai beberapa tahun aku belum ada keinginan menulis. Entah kenapa tahun-tahun itu jariku kaku. Tulisanku hanya ada di satu atau dua buku. Paling banter ada di script MC dan kegiatan sekolah.

Merangkak Dari Nol


Perjuangan kumulai lagi di tahun 2017. Merangkak dari nol. Itu istilah yang kugunakan. Perjuangan panjang yang melelahkan. Antara dunia kerja, training menulis, dan mengerjakan tugas menulis. Jangan dikira mudah ya. Susah pakai banget.

Malam aku kurang tidur. Di setiap kesempatan kugunakan waktu untuk membaca, menulis, dan membuat draft. Aku ikut training berbayar. Beberapa kelas kuikuti.  Beberapa buku antologi tercipta.

Hingga kini aku sudah menulis 2 buku solo, dan 136 antologi. Masih ada beberapa buku antologi yang akan terbit. Buku soloku yang ketiga dan keempat masih dalam proses.

PUEBI


Entah kenapa aku itu paling suka bahasa Indonesia. Dari zaman SD sampai mahasiswa, nilai Bahasa Indonesiaku selalu di atas rata-rata. Apalagi kalau soal cerita sastra lama. Buku Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Sengsara Membawa Nikmat, dan buku sastra lama lainnya, sebagian hafal di luar kepala. Mungkin karena aku suka membaca cerita.

Aku jatuh cinta sama PUEBI karena ingin memperbaiki bahasa Indonesia secara tulisan. Kalau lisan itu sudah biasa. Maksudku biasa ngomong gitu. Kalau tulisan kan beda. Harus berstruktur dan efektif. Jangan tanya aku sudah sampai mana belajarnya. Hingga kini aku masih belajar. Bahasa Indonesia itu sesuatu banget. Yang pasti membuatku semakin cinta bahasa Indonesia.

Berapa jam belajar Bahasa Indonesia? Minimal sejam sehari. Inginnya seharian. Namun, ada pekerjaan yang harus kutunaikan. Jadi, kuluangkan waktu sehari sejam saja. Biar enggak bosan.

Ketika jadi pengurus IIDN, kupilih PUEBI. Modalku nekat saja. Hari pun kupilih Sabtu. Waktu yang paling longgar di antara rutinitas pekerjaan kantor. Terkadang aku menyiapkan dari malam. Terkadang mengalir saja. Apa yang terlintas di angan, itu yang disampaikan. Pernah juga kelupaan. Maklum manusia biasa. Sok bijak ya.

Dari PUEBI aku semakin banyak belajar. Aku pun berusaha praktik sesuai dengan PUEBI. Jangan tanya susahnya. Namun, ketika semua dinikmati dengan cinta, ya enak saja. Enggak terasa lho hampir setahun di PUEBI. Ke depan semoga bisa terus mengawal PUEBI dan membukukan materinya. Simak terus ya di #SabtuPUEBI IIDN (bukan promo).

Aku dan Buku


Buku itu bagiku barang mahal. Dulu aku sering nongkrong di toko buku sampai malam. Sekadar baca buku yang kusuka. Buku La Tahzan kubaca di toko buku. Maklum kala itu keuanganku pas-pasan banget. Kuakali dengan membaca buku di toko buku ataupun perpustakaan.

Ada satu masa aku kayak orang kerja. Pergi pagi pulang sore. Padahal aku di Perpustakaan Bantul. Tujuanku baca lowongan pekerjaan yang ada di koran. Kala itu masih serba manual. Usai baca Koran, baru baca buku. Aku paling senang baca buku cerita. Entah novel, cerpen, dan sebagainya. Aku pun berharap, satu hari nanti namaku ada di sampul buku.

Ketika akhirnya aku punya buku, rasanya bahagia banget. Akhirnya perjuanganku membuahkan hasil. Dari satu antologi ke antologi hingga berani menulis buku solo.

Tetap bertahan sebagai penulis buku, membuatku dipercaya menjadi kadiv buku IIDN. Sesuai dengan passionku selama ini. Sementara blog belum tergarap dengan maksimal (maafkan daku bu ketua) fokusku di divisi buku.

Akan banyak program digelar. Kegiatan rutin ada #RabuBuku, #JumatFiksi, dan #SabtuPUEBI. Kalau aku fokus di #SabtuPUEBI. Namun, jangan khawatir, sesekali aku muncul di #RabuBuku dan #JumatFiksi.

Selain itu ada training penulisan fiksi maupun nonfiksi, pembuatan antologi, dan Lomba Menulis. Untuk saat ini yang masih berjalan Audisi Puisi Kolaborasi IIDN dead line 31 Januari 2020 dan Lomba Menulis Novel dead line 26 Maret 2020. Info lengkap silakan cek grup FB IIDN dan IG IIDN.

Aku berharap terobosan yang kulakukan di divisi buku akan menambah ilmu pengetahuan bagi rekan-rekan sesama perempuan penulis di Indonesia dan luar negeri.

Nderes Literasi


Komunitas ini kudirikan setahun lalu. Nama ini kuperoleh setelah diskusi dengan suami. Tujuannya biar punya brand sendiri. Sampai hari ini baru aku dan suami yang mengelola komunitas ini. Semua kulakukan secara daring.

Komunitas Nderes Literasi mengajak semua orang untuk menulis buku. Minimal satu buku. Tujuannya untuk mendokumentasikan perjalanan hidup. Seorang penulis karyanya akan tetap hidup meskipun sudah tiada.

 Sampai saat ini sudah lima buku yang dihasilkan Nderes Literasi
1.       Kidung Ramadan
2.       Kumpulan Quotes Ramadan
3.       Sempena di Bulan Mulia
4.       Merindu Baitullah
5.       Mendekap Rindu Baitullah

Setelah ini segera menyusul buku-buku antologi selanjutnya. Ada juga buku yang kumentoring, yaitu Sketsa Rasa Cinta.

Selain buku antologi, Nderes Literasi juga mengadakan training menulis baik gratis maupun berbayar. Salah satunya kelas Mengawal Mimpi 2020. Awalnya hanya satu batch, saat ini sudah sampai batch 3. Semoga kehadiran Nderes Literasi mampu menjadi jembatan para penulis untuk terus berkarya dan memperkaya khazanah literasi di Indonesia.
Surabaya, 31 Januari 2020.
Naskah ini diikutkan dalam Tantangan Alumni Kelas Blog IIDN bulan Januari 2020
#TantanganAlumniKelasBlogIIDN




Rabu, 04 September 2019

Hijrah ke Surabaya Tidak Pakai Ribet


sumber foto: Tokopedia

Surabaya tidak pernah ada dalam anganku. Mampir di kepalaku pun tidak. Apalagi akan tinggal di kota Bu Risma untuk waktu yang lama. Semua terjadi begitu cepat. Tiba-tiba aku dan suami harus hijrah di ibukota Jawa Timur itu.

Pengalaman berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain membuatku santai. Tidak seperti kepindahanku dari Aceh atau Tangerang, kali ini tidak banyak barang yang kubawa. Aku dan suami sudah sepakat mengakali barang dengan jumlah minimal.

Tips Pindah Kota

  • 1.      Kenali Kota Tujuan


Sebelum resmi pindah ke kota tujuan, pastikan sudah mempelajari tempat tersebut. Bila belum sempat mengunjunginya, pastikan sudah mencari data di internet. Di zaman sekarang, informasi begitu mudah dicari. Jadi, tidak menerima alasan ketidaktahuan.

Beruntung aku pernah traveling di Kota Surabaya tahun 2013. Memang sudah lama, tetapi beberapa daerahnya masih kuingat. Kala itu aku ditemani keponakan.

Walaupun sudah pernah ke Kota Surabaya, aku juga melengkapi data dengan mengecek melalui internet. Tujuannya biar tidak dibilang kurang update.

  • 2.      Tujuan Pertama di Kota Tujuan


Ini sebenarnya tidak penting bagi yang tugas dinas. Biasanya kantor sudah menyediakan tempat tinggal untuk karyawan selama bertugas. Tugas mencari tempat tinggal sementara, kupasrahkan ke suami. Kebetulan teman beliau di Kota Surabaya lumayan banyak.

  • 3.      Menyelesaikan Semua Urusan Sebelum Keberangkatan


Ini termasuk hal penting. Aku dan suami berbagi tugas. Dari mulai mengurus surat, perbankan, utang, dan pamitan kepada mertua. Maklum beliau tinggal sendiri di rumah. Jadi, aku dan suami harus memberikan pengertian lebih.

Usahakan tidak punya utang uang atau barang dengan tetangga dan saudara. Nanti akan menimbulkan kejadian yang tidak enak di kemudian hari. Dikira kabur meninggalkan utang.

  • 4.      Pastikan Membawa Dokumen Pribadi

Dokumen pribadi, seperti SIM, KTP, KK, dan sebagainya. Ini akan memudahkan ketika dibutuhkan. Apalagi untuk yang menetap lama. Biasanya perkenalan pertama dengan ketua RT dan RW menggunakan KK dan KTP.

  • 5.      Usahakan Membawa Barang Sedikit

Tujuan ke Surabaya adalah bekerja. Oleh karena itu saku tidak membawa barang banyak. Apalagi membawa buku-buku karyaku. Hal itu akan sangat memberatkan.

Barang yang kubawa adalah baju kerja yang akan kupakai minimal seminggu di Surabaya. Selama belum ada seragam, baju kerjaku dulu masih bisa dipakai. Lagian juga masih muat kok.

Barang yang sedikit juga membuatku mudah bergerak ke sana dan kemari. Maklum perjalanan ke Surabaya kutempuh dengan bus. Dari Kudus ke Surabaya hanya ada bus. Kalau mau naik kereta api harus ke Semarang dulu.

  • 6.      Packing dengan Rapi

Soal packing aku dan suami saling melengkapi. Aku kebagian tugas melipat dengan rapi. Suami menata di tas besar yang akan kupakai. Jadilah kami berangkat dengan dua tas ransel dan satu tas besar. Sangat ringkas bukan?

Kunci packing adalah seni melipat baju dan pemisahan sesuai jenisnya. Baju kerja dan baju dalam ditata sedemikian rupa. Sehingga muat banyak.

  • 7.      Hindari Membawa Koper Besar

Koper dua di atas lemari tidak kami gunakan. Aku lebih memilih satu tas ukuran sedang yang biasa dipakai mudik. Alasannya karena kami akan naik dan turun menggunakan kendaran umum. Jadi, koper hanya akan bikin ribet. Kebayang kan bagaimana repotnya membawa barang dari angkutan satu ke yang lain?

Itu tips pindahan tanpa ribetku. Semoga bermanfaat.

Surabaya, 04 September 2019
#ODOP
#EstrilookCommunity
#Day3




Selasa, 03 September 2019

365 Hari Bersamamu

koleksi fuatuttaqwiyah

Sebuah pesan masuk ke gawaiku.

Happy Anniversary!
Semoga sakinah mawaddah war-rahmah.
Tidak terasa ya sudah setahun.

Aku tersenyum mengingat setahun kemarin. 2-09-2018. Tanggal cantik. Serba Sembilan. 2 x 9= 18. 18 : 2 =18. Entah kenapa aku suka angka sembilan. Kebetulan kisah suka ataupun duka di tanggal yang berunsur sembilan. Kapan-kapan saja kuceritakan hal itu.

Peringatan Anniversary

Aku dan suami tidak mengadakan acara khusus. Apalagi suami baru pulang dari luar kota. Beliau berusaha untuk pulang pas tanggal tersebut. Kuhargai usahanya tersebut. Kusambut beliau dengan suka cita.
Setahun bersama bukan hal yang mudah. Apalagi ada beda di antara kita. Suami yang suka melihat sesuatu dengan sederhana. Sebaliknya aku melihat sesuatu dengan terperinci. Perbedaan sudut pandang ini sering menimbulkan perdebatan. Sejauh ini sih asik saja. Kami berdebat tentang banyak hal.

      Kontrak Seumur Hidup

Pernikahan adalah hubungan seumur hidup. Agar bisa langgeng diperlukan banyak hal. Terkadang cinta saja tidak cukup. Bekal cinta itu hanya ada di awal. Dalam perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga akan banyak aral dan coba. Sebagian selamat sampai tujuan. Banyak juga yang karam di tengah lautan luas.

Memahami pasangan pun demikian. Bekalku kala itu ya rida Allah. Kalau Allah meridai pernikahan ini, aral dan rintang itu lewat begitu saja. Apa pun yang terjadi, kukembalika kepada Allah. Sehingga riak-riak pernikahan tidak pernah membuat kening berkerut.

Adaptasi

Dua orang bersatu dalam kurun waktu yang lama. Adaptasi diperlukan agar pernikahan awet. Aku tentu bermimpi pernikahan ini langgeng hingga mencapai kakek dan nenek. Amin. Makanya, aku berusaha saling memahami satu sama lain.

Proses adaptasi ini tidak lama. Pada dasarnya kami mirip satu sama lain. Dari segi hobi nulis, jalan-jalan, dan baca buku. Sehingga, kebiasaan jalan-jalan masih kami teruskan. Tentu saja menyesuaikan waktu dan kondisi. Maklum Kami sama-sama kerja. Jadi, harus meluangkan waktu banget.

Hobi yang sama membuat  beliau tidak keberatan ketika aku harus tidur larut malam demi sebuah naskah. Terkadang aku harus bangun pagi-pagi juga untuk menulis naskah. Paling beliau mengingatkan waktu istirahat dan jaga kesehatan.

Setiap hal kecil yang tidak kusuka, langsung kusampaikan ke suami. Begitu pun sebaliknya. Kami saling mengoreksi satu sama lain. Maklum, aku yang terbiasa mandiri, kali inin apa pun yang kulakukan tentu harus seizin suami.

Mimpi yang Sama

Dari awal menikah tujuan Kami adalah meraih rida Ilahi. Jadi, banyak mimpi yang kami tulis, semua disandarkan kepada Allah. Salah satunya tentu bermanfaat bagi semua orang. Sebagaimana hadis Nabi Muhammad saw. yang artinya sebaik-baik mausia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia. Bukan hal yang muluk. Soal materi, Kami kembalikan kepada Allah.

Ada saatnya materi menjadi pendukung untuk kehidupan kami. Namun, ada banyak hal yang tidak bsa dinilai dari materi. Ketika tiba-tiba kami mendapatkan banyak nikmat dari Ilahi. Tidak ada kata lain selain bersyukur atas semuanya.

Nikmat pemberian-Nya memang tidak terhitung. Manusia tidak sanggup menghitung jutaan nikmat dari Allah. Sebagaimana tercantum dalam kitab suci Alquran surat Annahl ayat 18.

Doa di Anniversary

Seperti lazimnya pasangan yang lain. Apalagi ini baru tahun pertama. Akan ada tahun-tahun selanjutnya. Bila Kami diberi umur panjang Doa Kami pernikahan ini sakinah, mawaddah war-rahmah, dan bahagia. Kami pun segera dikaruniai putra-putri yang saleh dan salihah. Amin.  

Surabaya, 04 September 2019

#ODOP

#EstrilookCommunity #Day2

Minggu, 01 September 2019

Menyambut Tahun Baru 1441 Hijriah


sumber: canva.com
Awal tahun baru hijriah, tanggal satu Muharam 1441 H, bertepatan dengan tanggal 1 September 2019. Angka tahun yang cantik. Mau dibolak-balik tetap sama. Itu kata pak ustaz tadi di masjid Abu Adenan Gunung Sari Indah Surabaya. Rumah kontrakanku kebetulan selang tiga rumah dari masjid. Jadi, setiap masjid mengadakan kegiatan, aku bisa mendengarkan dari rumah.
 Salah satu doa dari suamiku terjawab sudah. Mendapatkan rumah dekat dengan masjid. Rumah di Kudus juga dekat dengan langgar. Sehingga, setiap mau salat berjemaah tidak perlu jalan terlalu jauh.
Ada banyak doa di awal tahun. Tradisi di keluarga pun begitu. Biasanya kami mengawali dengan berdoa bersama di rumah. Maklum, sejak bekerja kembali, aku tidak bisa setiap saat ikut kegiatan di masjid. Hanya pada waktu tertentu, pas kebetulan di kantor tidak lembur.
Makna tahun baru bagiku sangat banyak. Aku memang tidak merayakan tahun baru ini dengan pesta ataupun yang lain. Aku hanya berharap tahun baru bisa lebih baik dari sebelumnya. Dalam segi apa pun.

Muhasabah Diri

Setiap tahun baru tiba, biasanya aku melakukan introspeksi diri. Pasti banyak hal yang terlewat. Maklum, namanya juga manusia. Tempat salah dan lupa. Biasanya kucatat dalam buku to do list. Buku itu memang khusu untuk menulis yang ingin kulakukan. Kalau sudah kulakukan, biasanya langsung kucoret.
                             sumber foto : koleksi Fuatuttaqwiyah
Nenek memang mengajariku untuk melakukan evaluasi setiap tahun. Terkadang beliau menanyakan keinginan atau mimpiku yang belum terlaksana, alasan tidak tercapai, dan rencana selanjutnya. Hidup yang terarah memang jauh lebih indah.
Kalau sekarang, evaluasi kulakukan bersama suami tercinta. Kami memang menuliskan semua mimpi di buku harian dan laptop. Terkadang kutuliskan di papan mimpi. Semuanya berguna untuk mengevaluasi.

Afirmasi
                           sumber foto: Indscript

Mimpi yang ditulis akan menjadi kenyataan. Setiap hal yang ingin kulakukan kutulis. Keinginan paling utama sekarang adalah lebih banyak menebar kebaikan. Bukankah orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain. Lingkungan sekitar rumah juga bisa merasakan arti kehadiran kita.
Seringkali orang membatasi diri. Merasa tidak bisa dan mampu melakukan sesuatu. Padahal sesuatu yang besar, itu berawal dari hal yang kecil. Bahkan remeh sekali pun. Contoh membuang sampah ke dalam tong sampah. Kelihatannya hal mudah. Namun, tidak semua orang mau melakukannya. Buktinya masih banyak yang membuang sampah di jalan. Bahkan di jalan raya.

Perubahan Berawal dari Diri Sendiri

Ketika melakukan perubahan apa pun itu, selalu kumulai dari diri sendiri. Sebelum menyuruh orang lain melakukan hal yang sama, setidaknya aku sudah tahu prosesnya. Jadi, tidak asal menyuruh orang alias omong doang.
Di usia yang tidak muda lagi, tentunya tujuan hidup berbeda, Tidak melulu soal dunia saja. Namun, sudah mengarah ke hal spiritual. Tentu agar semua orang merasakan kebaikn yang kubagi.

Jadwal Baru


Kegiatan harian ada yang kuubah. Ada aktivitas baru yang kumasukkan. Misal, jadwal tidur. Berhubung lagi mengikuti event menulis, maka harus ada yang kukorbankan. Aku yang biasa tidur awal, kali ini kuganti. Sebelum bobok, kusempatkan untuk menulis buat event tersebut.

Harapan Baru

Tahun baru harus optimis. Itu yang kutekankan dalam hati. Ada banyak hal yang ingin kuraih. Harapanku semoga bisa terwujud. Langkah demi langkah pun sudah kususun. Agar mimpi akan segera menjadi nyata. Bila semua ditulis, maka akan mudah dalam mengimplementasikan di kehidupan sehari-hari.

Surabaya, 1 September 2019

#ODOP

#EstrilookCommunity #Day1

Rabu, 27 Februari 2019

Bahagia Mempunyai Soulmate Sejiwa

koleksi pribadi Fuatuttaqwiyah

Bicara soal soulmate bikin aku tersenyum manis. Apalagi mengingat pertemuan pertama kami yang luar biasa. Semua seperti sudah diatur oleh-Nya. Proses kilat dan langsung menuju akad. Saat itu yang ada dalam pikiranku adalah ini yang terbaik dari Allah.
Sekian bulan bersama pasti ada yang berbeda. Kami masih tahap saling memahami dan terus belajar menjadi pasangan yang sehati. Terkadang kalimat alay terlontar. Sekadar membangun chemistry dan menyamakan visi misi. Aku yang serius dengan suami yang doyan bercanda.
Seperti status hari ini. Aku sedang mengetik naskah ketika ia bilang kalimat yang bikin aku tersenyum.

status di facebook tanggal 27 Februari 2019

Tahu berapa yang menyukai status alay yang kuposting di facebook hari ini? 70 orang. Ini rekor pertama menulis status alay dan dikomentari banyak orang. Biasanya statusku serius dan jarang bikin baper orang. Terima kasih yang sudah berkomentar, termasuk cikgu Artha Julie Nava.
Cerita di balik kalimat itu sebenarnya aku lagi suntuk dengan naskah buku solo yang memerlukan konsentrasi penuh. Ini pertama kali menulis buku serius dan menggunakan referensi buku yang tidak sedikit. Aku beruntung karena mempunyai koleksi buku yang lengkap untuk naskah buku solo ketiga ini.
Alhamdulillah. Puji syukur kepada Allah yang telah menganugerahkan  suami yang luar biasa. Ia mendukung karir menulisku. Dari mencarikan referensi, menulis tulisan Arab, menerjemahkan referensi, dan teman diskusi yang menyenangkan.

Kebetulan aku dan suami sama-sama suka menulis dan membaca buku, Setelah sekian tahun vakum, beliau mau menulis lagi. Ada dua buku antologi  yang sudah ditulis tahun lalu yakni 888 Quotes Kebaikan dan Reminisensi Guru. Sampai sekarang masih banyak teman suami yang menyangsikan kemampuan menulisnya.

Mempunyai pasangan sevisi misi itu asyik. Kami biasa berdiskusi dan saling melengkapi. Apalagi kalau sudah membahas kitab kuning. Bisa berjam-jam diskusinya. Beliau juga tidak protes ketika aku harus menyelesaikan naskah hingga larut atau sedang Blog Walking (BW). Maka nikmat manakah yang kaudustakan?
Bersyukur dan berdoa agar cinta kami abadi. Seperti lagu Fatur Selalu Untuk Selamanya.
Bersandar di pelukmu
Menatap di matamu
Apakah kauragu padaku
Kini aku ragu padamu

Reff
Adakah cinta yang tulus kepadaku
Adakah cinta yang tak pernah berakhir
Adakah cinta yang tulus kepadakau
Adakah cinta yang tak pernah berakhir
Selalu untuk selamanya

Termenung di keningmu
Basah di matamu
Apakah itu caramu
Untuk membuktikaancintamu

Sesungguhnya dirimu di hatiku
Dan diriku di hatimu
Walau ada ragu yang membara
Ragu yang harus kaujawab
Oo uu aaha
Back to reff
Ini link youtubenya https://www.youtube.com/watch?v=i8yoFpqG0yU

Mau baper lagi? Melodi Cinta, Love Behind The Scene, dan Jejak Cinta Separuh Jiwa. Ketiga buku membahas tentang cinta dengan segala rasanya. Penasaran seperti apa isinya? Langsung saja baca.  Bagi yang belum punya, bisa order kepadaku, di wa.me/6285820123217. 

Undaan Kidul, Kudus, 27 Februari 2019

#NubarSumatera
#ChallengeMenulis
#day33
#Nderes Literasi
#SehariSatuParagraf
#Eladibastore
#Eladibatraining
#Day15


Sumber foto
Koleksi pribadi Fuatuttaqwiyah
Youtube.com
facebook.com