This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 18 Januari 2019

Mengenal Alquran Lebih Dekat

                                           koleksi: fuatuttaqwiyah
Review Buku
Judul buku   : Dalam Dekapan Mukjizat Alquran
Penulis         : Lana Salikah Azhariyah, Salmiah Rambe, dkk.
Penerbit       : Syamiil Books
Tebal            :264 halaman
Ukuran        : 14,5 cm x 21 cm
Berat            : 300 gram
Cetakan        : II, 2018
ISBN: 978-979-055-834-2

Dalam Dekapan Mukjizat Alquran adalah buku antologi best seller saya tahun 2018. Sampai akhir tahun buku ini terjual lebih dari 20.000 eksemplar. Sebuah angka yang sangat fantastis. Apalagi bagi saya dan teman-teman penulis yang kesemuanya perempuan. Syukur tak henti-hentinya kami sampaikan pada Ilahi atas segala nikmat ini.

Penulis buku ini adalah saya dan 12 perempuan yang kesemuanya adalah hafizah (orang yang hafal Alquran). Ada yang sudah selesai 30 juz, ada yang baru sebagian, dan ada yang baru beberapa juz. Perjuangan dalam menghafal itulah yang membuat buku ini menarik untuk dibaca keluarga muslim Indonesia.

Menghafal Alquran bagi sebagian orang adalah hal yang sulit. Ada saja alasan yang membuat seseorang enggan menghafal. Entah kesibukan, karir, kegiatan yang menyita waktu, hingga undangan demi undangan yang tidak henti datang. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri sehingga para ibu hebat ini selesai menghafal 30 juz.

Buku ini menampilkan masing-masing hafizah dan proses menghafal dan menjaga hafalan Alquran. Ada Ustazah Lana Salikah yang akhirnya bisa sembuh dari penyakit autoimun karena menghafal Alquran dan mengajak bayinya juga ikut serta.
Selain menceritakan proses menghafal dan menjaga hafalan Alquran, ada juga tips dan trik menghafal Alquran. Antara lain: menggunakan mushaf (Alquran) yang sama, ada guru yang berkompeten, dan waktu. Manajemen waktu sangat mempengaruhi keberhasilan menghafal Alquran.
Ini adalah salah satu yang mengulas buku Dalam Dekapan Mukjizat Alquran ketika saya mengisi kuliah di WA Parenting.
Jadi, bagi yang ingin menghafal atau sedang proses menghafal, langsung saja baca buku ini. Anak-anak pun bisa membacanya. Harganya pun sangat bersahabat. Buku ini bisa dibeli di took buku terdekat atau kepada para penulisnya. Selamat membaca!

#ODOP #estrilook  #day18
#NubarSumatera
#ChallengeMenulis,
#day5


Kamis, 17 Januari 2019

Manfaat Ikut Challenge Menulis


sumber: pixabay.com
Januari 2019 baru saja datang. Namun, challenge menulis datang beruntun. Hampir sebagian besar komunitas menulis memanfaatkan awal tahun untuk menggelar kegiatan ini. Para penulis pun berlomba ikut dengan semangat membara. Ada juga yang sekadar iseng atau membunuh waktu.
Mengikuti challenge menulis sih sah-sah saja. Namun, harus dilihat juga kemampuan diri. Jangan sampai ikut challenge menulis, badan capek, hasilnya nol.
Ketika memutuskan untuk ikut event menulis, saya selalu menakar kemampuan diri sendiri. Apakah saya mampu? Apakah saya bisa? Itu hal pertama yang saya terlintas di benak.
Selain menakar kemampuan diri, izin pasangan juga harus didahulukan. Saya bersyukur mempunyai suami yang selalu mendukung aktivitas menulis. Ada lho yang setelah menikah dibatasi aktivitas menulisnya. Sehingga kemampuan menulisnya terjun payung.
Apa Manfaat Ikut Challenge Menulis?

Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari ikut event menulis, yaitu

1.      Melatih Kecepatan Menulis
Menulis itu keterampilan. Artinya harus dialtih terus menerus. Tidak adal yang instan.Jadi, semakin dilatih,akan semakin mudah dan cepat menulis. Alah bisa karena biasa. Begitulah kata pepatah lama. (baca https://eladiba.blogspot.com/2019/01/15teknik-menulis-cepat-ala-teh-indari.html)

2.      Mempunyai Naskah Solo
Dissadari atau tidak menulis di event bisa untuk menulis buku solo. Itu juga yang saya lakukan ketika ikut tantangan menulis. Harus jadi naskah buku solo. Sehingga rasa capek dan lelah tidak terasa.

3.      Branding Sebagai Penulis
Ikut event berarti kita berjejaring. Kenalan semakin banyak. Pembaca juga semakin banyak. Pasti akan senang ketika semakin banyak yang mengenal kita sebagai penulis.Apa pun tulisannya. Untuk awal, focks saja pada satu genre. Setelah ahli, pindah ke genre yang lain.

4.      Ajang Eksis
Ini diperbolehkan. Siapa tahu ada klien yang suka dengan tulisan kita. Siapa tahu dapat proyek. Lumayan, kan?

5.      Kepuasan Batin
Lega dan bahagia ketika challenge selesai. Bila boleh  berteriak pasti dilakukan. Seperti hari ini saya sudah menyelesaikan event 30 hari Menulis Status Indscript. Bukan hal mudah menyelesaikan challenge. Perlu usaha yang keras untuk mengatur emosi dan kejenuhan. Terkadang ingin berhenti, namun saying sudah hampir akhir. Akhirnya ketika semua selesai, bahagia di dada.

#ODOP #estrilook  #day17
#NubarSumatera
#ChallengeMenulis
#day4

The Power of Deadline


sumber: pixabay.com
Seharusnya ini tema hari ketiga. Namun, baru hari keempat bisa menuliskannya. Kemarin seharian sibuk merekap orderan buku Resep Emak Berbisnis Dijamin Laris. Kebetulan hari terakhir. Bisa dipastikan orang-orang baru ngeh ketika hari terakhir. Kemarin-kemarin, entah ke mana? Itu pertanyaan klise. Memang sepertinya sudah menjadi kebiasaan di Indonesia, pas deadline baru pada pesan. Kebayang kan bagaimana repotnya saya kemarin.

Berprofesi sebagai penulis, bagiku deadline adalah makanan sehari-hari. Seperti saat nekad mengikuti event Nulis Bareng Challenge Menulis wilayah Sumatera. Aku sudah bersiap dengan berbagai deadline menulis yang kebetulan bareangan. Kali ini memang sudah kuniatkan. Bulan Januari harus lebih produktif menulis. Jadi bersikap biasa saja.
Selamat tinggal kemalasan!
Selamat datang produktivitas!

Keistimewaan Deadline

Deadline membuat adrenalin terpacu. Ide biasanya muncul jelang deadline. Itu menurutku. Di balik kengerian deadline, banyak sisi positifnya, antara lain:

1.      Membuat Otak Berpikir Cepat
Bekerja di bawah tekanan membuat otak terpacu. Ini akan membantu menemukan ide-ide baru yang bisa memenuhi kepala. Sehingga bisa menyelesaikan naskah relatif lebih cepat. Tinggal menyatukan ide menjadi naskah yag sesuai dengan kebutuhan.

2.      Mengatur Waktu
Maksudnya hari itu waktu dibagi sedemikian rupa agar tidak terlewat. Kesibukan pasti tidak ada henti. Oleh karena itu harus diakali. Caranya, jam berapa harus nulis, jam berapa kirim. Pastikan dikirim sebelum batas akhir waktu. Biasanya jelang berakhir, semua mengirim berbarengan.
Kebanyakan penulis mengirim di hari terakhir. Akibatnya banyak yang menyerbu email. Kendala pasti ada.

3.      Pastikan Koneksi Provider Mendukung (baca https://eladiba.blogspot.com/2019/01/6-cari-provider-yang-mendukung-kegiatan.html)
Ini sudah sering terjadi. Jadi, tahu banget koneksi internet mempengaruhi hasil akhir. Beberapa kali event terlewat hanya beda beberapa detik. Sesuatu yang bikin kesal, kan? Sebaiknya hindari tindakan seperti itu. Sayang dengan usaha yang telah dilakukan untuk menyelesaikan tulisan.

Mengakali Deadline
Cara paling klasik mengakali deadline adalah mengatur waktu sebaik-baiknya. Caranya, yaitu
1.      Buat Timeline
Usahakan h-2 sudah terkirim. Jadi, otak bisa rehat sejenak.
2.      Buat Kerangka Tulisan
Ini sangat membantu ketika deadline berkejaran.
3.      Banyak Membaca
Jadi, deadline bukan untuk ditakuti, tetapi untuk membuat seni menulis jadi lebih hidup. Selamat menikmati deadline!
#ODOP #estrilook  #day16
#NubarSumatera
#ChallengeMenulis

#day3

Selasa, 15 Januari 2019

15. Teknik Menulis Cepat ala Teh Indari Mastuti



Menulis adalah ketrampilan yang diasah terus menrus. Ada penulis yang  sehari sanggup menulis satu halaman. Namun, ada juga yang sanggup menulis hingga berpuluh-puluh halaman. Setiap penulis mempunyai kemampuan berbeda-beda dalam menulis. Dia bisa lambat, bisa juga cepat. Sebagai penulis tentu ingin dikenal menjadi penulis yang cepat. Betul, tidak?

Menulis cepat ternyata ada tekniknya lho. Kali ini, saya mendapatkan ilmunya langsung dari teh Indari Mastuti, pemilik dari Indscript Creative. Setidaknya ada tiga hal yang harus dikuasai oleh penulis, ketika akan menulis cepat. Apa sajakah kemampuan itu?

1.       Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Setiap orang pasti mempunyai pengalaman unik dan khas. Di dunia ini tidak ada pengalaman yang sama. Andaikan ada, tetap ada hal unik dan beda yang bisa diangkat. Tinggal bagaimana mengolah menjadi karya yang layak untuk dibaca.
Buku-buku biografi dan motivasi terlahir dari pengalaman tokoh yang ditulis. Lahan ini pun sangat luas. Apalagi menjelang masa kampanye. Semua berlomba membuat buku biografi untuk menaikkan rating tokoh agar dikenal di masyarakat. Buku jenis ini pun laris sepanjang masa.
Selain buku biografi, banyak novel, novella, dan cerpen ditulis berdasarkan pengalaman pribadi. Boleh jadi nama disamarkan. Novel yang mendekati dunia nyata lebih banyak penggemarnya dibandingkan novel sastra yang sulit dipahami.

2.       Paham Apa yang Akan Ditulis

Pengetahuan mengenai apa yang akan ditulis menjadi syarat mutlak untuk menulis cepat. Mengapa? Bila materi dikuasai, jari pun bisa menari dengan lincah. Bukan mustahil, puluhan buku tercipta dalam waktu yang relatif singkat.
Maka, seyogyanya sebelum mulai menulis, bacalah referensi buku yang berkaitan dengan tema yang akan dibahas. Tujuannya agar memudahkan proses menulis. Jangan sekali-kali menulis tanpa persiapan. Apalagi tulisan non fiksi dan ilmiah. Bisa-bisa nanti writer block.

3.       Menguasai Topik

Ini berkaitan dengan poin sebelumnya. Intinya adalah banyak membaca. Namun, pemahaman akan topik bisa juga didapat dari diskusi, seminar, dan observasi. Apa pun bisa digunakan untuk menguasai materi. Saya termasuk rewel untuk soal topik ini. Paling enak hal-hal yang berhubungan dengan keseharian atau dekat dengan kehidupan yang dijalani. Tulisan akan lebih cepat selesai dan bisa beralih ke topik lain. Seperti saya yang lebih senang dengan tema pendidikan, traveling, dan gaya hidup. Saya tidak akan membebani otak dengan kajian yang rumit dan lama.
Jadi, yang mau menjadi penulis cepat, bisa dilakukan ketiga hal tersebut di atas.
#ODOP #EstrilookCommunity #day15
#nubarSumatera#ChallengeMenulis


Senin, 14 Januari 2019

14. Definisi Santri

                             santri zaman dulu
Istilah santri tentu sudah tidak asing lagi. Apalagi setelah dicanangkan hari Santri oleh Pak Presiden Jokowi. Santri yang dulunya hanya di bilik-bilik pesantren, akhirnya menggeliat. Ia pun menjadi pembicaraan bagi banyak orang. Namun, apakah Anda sudah tahu pengertian dari kata santri?
Kata santri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti (1) orang yg mendalami agama Islam; (2) orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh (orang yg saleh). Dari pengertian ini bisa didefisinikan bahwa setiap orang yang mendalami agama Islam, meskipun tidak tinggal di pesantren, bisa disebut santri.

Pengertian Santri Menurut Para Ahli
1.      Prof Dr. Zamakhsyari Dhofiermengutip pendapat Prof.Johns
santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji.
2.      C.C.Berg
kata santri berasal dari Bahasa India “shastri” yang artinya orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci.
3.      Cliford Geertz
Santri berasal dari kata sansekerta “shastri” yang artinya ilmuwan Hindu yang pandai menulis. Dalam arti sempit santri berarti pelajar yang belajar di sekolah agama (pondok pesantren). Arti yang lebih luas santri adalah penduduk Jawa yang menganut Islam dengan sungguh-sungguh.
4.      Nurcholish Majid
Santri berasal dari Bahasa Jawa, yaitu cantrik, yang artinya orang yang selalu mengikuti guru.
5.      Mustofa Bisri (Gus Mus)
Ada enam pengertian santri, yaitu
a.       Murid kiai yang dididik dengan kasih sayang untuk menjadi mukmin yang kuat (yang tidak goyah imannya oleh pergaulan, kepentingan, dan adanya perbedaan).
b.      Kelompok yang mencintai Negara, menghormati guru dan orang tua kendati keduanya telah tiada.
c.       Mencintai tanah tempat ia dilahirkan, menghirup udara, bersujud, dan menghargai tradisi budaya.
d.      Kelompok orang yang memiliki kasih sayang sesama manusia dan pandai bersyukur.
e.       Mencintai sesama hamba Allah, mencintai ilmu, tidak pernah berhenti belajar (dari ayunan hingga liang lahat).
f.       Menganggap agama sebagai anugerah dan wasilah mendapat rida Tuhan.
6.      KH. Daud Hendi (Pengurus Yayasan Ummul Quro)
Santri berasal dari gramatika Bahasa Arab. Ada lima huruf  yakni (سنتري) yang menyusun kata santri. Penjabarannya sebagai berikut:
·         Sin (س) adalah kepanjangan dari سَافِقُ الخَيْرِ yang memiliki arti Pelopor kebaikan.
·         Nun (ن) adalah kepanjangan dari نَاسِبُ العُلَمَاءِ yang memiliki arti Penerus Ulama.
·         Ta (ت) adalah kepanjangan dari تَارِكُ الْمَعَاصِى yang memiliki arti Orang yang meninggalkan kemaksiatan.
·         Ra(ر)  adalah kepanjangan dari رِضَى اللهِ yang memiliki arti Rida Allah.
·         Ya (ي) adalah kepanjangan dari اَلْيَقِيْنُ yang memiliki arti Keyakinan.
7.      Pengertian lain
Santri terdiri dari empat huruf, yakni sin, nun, ta, ra. Dan dari segi pemaknaan pun memiliki beberapa perbedaan sebagaimana berikut:
Sin : Satrul al aurah (menutup aurat)
Nun : Naibul ulama (wakil dari ulama)
Ta’ : Tarku al ma’ashi (meninggalkan kemaksiatan)
Ra’ : Raisul ummah (pemimpin ummat)
8.      Santri dalam pengetrian gramtika Indonesia
·         S : satir al-‘uyub wa al-aurat, artinya menutup aib dan aurat. Yakni aib sendiri maupun orang lain.
·         A : aminun fil amanah, artinya bisa di percaya dalam megemban amanat.
·         N : nafi’ al-‘ilmi, artinya bermanfaat ilmunya. Dan inilah yang sangat diidamkan oleh semua santri. Ketika ia telah melalui masa-masa menimba ilmu, pasti harapan akhirnya adalah mampu mengamalkan ilmu tersebut.
·         T : tark al-ma’siat, artinya meninggalkan maksiat.
·         R : ridho bi masyiatillah, artinya rida dengan apa yang diberikan Allah
·         I : ikhlasun fi jami’ al-af’al, artinya ikhlas dalam setiap perbuatan.
Sekarang sudah tahu kan definisi santri. Pokoknya santri adalah orang yang belajar agama.
#ODOP #estrilook  #day14
#NubarSumatera
#ChallengeMenulis 

Minggu, 13 Januari 2019

13. Kenduri, Tradisi Berdoa untuk Leluhur yang Lestari di Desa Undaan Kidul



Sejak pulang ke desa, hampir tiap malam suami mendatapatkan undangan kenduri. Bisa dipastikan malam hari aku tidak perlu masak. Nasi kenduri sudah cukup untuk makan malam.
Tradisi kenduri sudah ada sejak zaman dulu. Masyarakat Undaan sangat menjaga tradisi turun temurun itu. Bahkan para orang tua selalu berpesan kepada ahli waris untuk melakukan kenduri sepeninggalnya.
Uniknya ada tradisi tidak boleh menggabungkan dua kenduri jadi satu. Misalnya, dalam satu keluarga kakek dan nenek meninggal di waktu yang berdekatan, tetap kendurinya dua kali. Itu yang terjadi di tetangga rumah. Peringatan 100 hari dan 1000 hari berdekatan. Namun, karena sudah ada wasiat tidak boleh dibarengkan, akhirnya kendurinya dibuat hari yang berbeda.
Suami bilang ini belum seberapa. Kalau pas bulan Syaban (sebulan sebelum Ramadan), sehari bisa dua kali kenduri. Masyarakat berlomba-lomba mengadakan kenduri untuk mengirim doa kepada leluhur. Jadilah waktu kenduri ada dua, setelah Magrib dan Isya.
Acara kenduri biasanya baca tahlil dan doa. Setelah selesai, nasi kenduri dibagikan ke yang hadir. Ketika semua sudah kebagian, semua boleh pulang.
Ada juga yang setelah membaca tahlil diberikan makan malam. Menunya tergantung tuan rumah. Namun, bagi masyarakat yang berpenghasilan pas-pasan tidak ada kewajiban memberikan makan kepada yang hadir.
Nasi kenduri biasanya diletakkan di panci atau wakul (tempat nasi) dari plastik. Di atas nasi, diberi mika bulat, tempat lauk. Biasanya lauknya lima macam. Umumnya mi, tahu cokelat kecil dioseng, tempe/tahu, ayam, dan sayuran berkuah santan. Umumnya dari kacang panjang atau sayuran sejenis timun (lupa namanya).

Di atas lauk, diberi tutup kertas selamat makan atau tulisan si pemilik hajat. Di atas tulisan ada snack lima macam. Bugis dan apem menjadi snack wajib. Itu yang kuamati setiap dapat kenduri. Sedangkan snack lain seperti roti, pisang, lemper, dan lain-lain tergantung selera tuan rumah.
Semua makanan tadi dibungkus tas plastik warna putih. Jadi, memudahkan tamu yang hadir untuk dibawa pulang.
Itulah kenduri di Desa Undaan. Kebersamaan antar warga masih melekat. Tidak ada perbedaan miskin kaya, semua hadir di acara kenduri.

#ODOP #estrilook  #day13 #kenduri #DesaUndaanKidul


12. Mi Tek Tek Undaan



Hujan deras baru saja mengguyur bumi. Genangan air masih ada di kanan kiri jalan. Sebagian jalan kampung Undaan Kidul sudah mulai sepi. Warga memilih di rumah tidur atau mengobrol dengan anggota keluarga.
Selama menjadi penduduk desa, aku jarang keluar. Apalagi malam hari. Sebisa mungkin tidak keluar rumah kecuali penting dan perlu. Udara malam di desa begitu dingin di musim penghujan. Mau ke jalan raya pun minimal memakai jaket.
Di sepanjang jalan Kudus-Purwodadi ada banyak penjual makanan seperti nasi goring, mi, sate, dan sebagainya. Suami mengajak aku untuk menikmati mi tek-tek. Sesekali makan di luar. Biasanya kalau mi dan nasi goreng, masakan suami paling enak. Ketahuan kalau aku malas masak. Hehe.

Warung mi tek-tek terletak di Undaan Tengah. Lumayan jauh dari rumah. Penjualnya menggunakan gerobak. Sementara untuk tempat duduk pembeli menggunakan teras sebuah toko yang sudah tutup. Terasnya berlantai keramik. Di atasnya ada tikar plastik sebagai tempat duduk. Pas aku dan suami datang, masih sepi. Belum ada yang beli.
Penjual menanyakan pesanan mi dan minuman. Dua porsi mi dan segelas air teh panas menjadi pilihan. Penjual pun segera membuatkan pesanan kami.
Penjual mi tek tek memasak menggunakan arang. Sementara untuk mengipasinya menggunakan kipas angin ukuran kecil. Tak lama pesanan kami siap.
                             tempat makan mi di depan toko
Penjual menyajikan dengan serbet dari kain sebagai alas piring. Jadi, di sini tidak ada tisu. Pembeli bisa menggunakan serbet kain untuk mengelap tangan mulut. Untuk yang terakhir saya tidak melakukan. Serbetnya tidak sempat difoto. 
Mi tek-tek disajikan dengan lima tusuk sate ayam. Ini merupakan ciri khas mi di daerah Undaan. Campuran mi pun hanya sayuran daun kol. Berbeda dengan mi Yogya yang sayurannya lebih banyak, di sini minya mengambil porsi lebih besar.
Untuk rasa, lidahku masih kurang puas. Biasa makan dengan bumbu gurih, mi tek tek ini cenderung manis. Apalagi ditambah sate ayam yang dominan rasa manisnya lebih besar. Rasa pedas hanya didapat dari cabe yang diiris bercampur mi. Kalau yang tidak suka pedas, tanpa sengaja bisa kemakan cabenya.
Pembeli mi setiap harinya sangat banyak. Harga yang dipatok pun lumayan murah. Hanya sepuluh ribu per porsi. Minumannya dua ribu rupiah. Perut pun sudah kenyang.
Begitulah hidup di desa. Serba murah. Ada yang mau mampir ke rumah? Silakan berkunjung di desa saya, sajian mi akan disuguhkan oleh suami, chef di rumah.

#ODOP #estrilook  #day12