Hidup di desa memang enak. Apalagi setiap ada hajatan, pasti semua
tetangga membantu. Tradisi gotong-royong masih mengakar kuat di desa. Berbeda dengan
di kota yang cenderung sendiri-sendiri. Bahkan tetangga depan rumah pun tidak
kenal. Di desa sebaliknya. Semua kenal satu sama lain. Kalaupun tidak kenal,
biasanya karena sudah merantau lama di ibukota. Maklum di desa ada setiap tahun
pasti ada kelahiran dan kematian. Aku pun termasuk yang tidak hafal dengan
pendatang baru.
Aku sekarang tinggal di Desa Undaan Kidul. Kebetulan kemarin ada hajatan
di sebelah rumah. Ada tradisi namanya rewang
(Bahasa Jawa) artinya bantu, bukan pembantu. Rewang artinya membantu orang yang
punya hajat. Bantuannya berupa tenaga dan materi. Selain membantu tenaga dari
awal hingga akhir acara, biasanya ketika datang pertama orang yang mau rewang membawa barang atau uang.
Nominal uang atau barang mengikuti adat kebiasaan setempat. Tentu saja
seiring dengan perkembangan zaman. Masing-masing desa mempunyai ukuran berbeda.
Desaku sebelumnya Kwatangan, menggunakan uang untuk membantu orang yang
hajatan. Sedangkan Desa Undaan Kidul menyumbang barang berupa beras, mi, dan
gula pasir. Bila masih saudara ditambah uang.
Di Undaan, kalau ada hajatan, hampir sedesa datang untuk rewang.
Biasanya mereka datang sehari sebelum hari H. Acara dimulai dengan mengirimkan
nasi ke seluruh penduduk desa. Nasi ini ditempatkan di panci/tempat nasi dari plastik.
Isinya nasi, lauk, sncak, dan krupuk. Setelah itu dibungkus dalam tas plastik.
Aku kebagian membantu menyiapkan snack untuk esok hari. Padahal di Kota
Tangerang tidak pernah membuat snack. Untung cuma bantu di bagian lemper. Makanan
yang terbuat dari ketan dengan isian srundeng manis. Orang-orang sempat
menggodaku. Mungkin karena aku lama di kota, dikira tidak bisa memasak. Alhamdulillah
masih bisa bantu membungkus lemper.
Paginya aku masih rewang. Kali
ini kebagian di depan kompor. Masih membantu membuat snack. Ada wingko goreng,
bakwan, dan pisang goreng. Soal wingko ini ada ceritanya. Rencana mau dibuat
bentuk bulat, tetapi tidak bisa. Adonannya terlalu lembek. Jadi, daripada
mubazir, dibuatlah wingko goreng. Luamayan dapat ilmu baru. Rasanya sama dengan
wingko khas Semarang. Adonannya juga sama. Perbedaannya di cara memasak. Wingko
Semarang dibakar, wingko Undaan digoreng.
Makanan yang dibuat untuk hajatan ukurannya dibuat kecil. Cara penyajian
diletakkan di piring dan disuguhkan di meja. Ada yang bertugas menata dan
menyajikan kue.
Di hari H, untuk makan dan snack boleh ambil sendiri. Di Undaan, hajatan
rata-rata prasmanan. Namun, ada petugas yang mengambilkan. Soal menu, tergantung
kepada tuan rumah yang punya hajat.
Menu andalan pindang daging kerbau. Dari segi warna seperti rawon, hanya
dari rasa sangat berbeda. Pindang daging kerbau lebih mak nyus. Penasaran, kan?
Datanglah ke Kudus. Pasti akan ketagihan makanan pindang ini.
Perewang boleh pulang setelah tidak ada yang
dikerjakan. Jadi, tidak harus menunggu hajatan selesai. Soalnya hajatan di sini
bisa sampai malam. Bisa tepar kalau dituruti.
Esok paginya hanya beberapa orang yang rewang, karena tinggal bersih-bersih. Biasanya yang rewang hari sebelumnya dikirimi nasi
sepanci dan lauk. Itulah tradisi rewang di Desa Undaan yang masih dipelihara.
Aku senang masih bisa menyaksikan tradisi yang masih hidup hingga saat ini.
Aku tidak menyesal pindah ke Undaan. Ini pengalaman terindah. Menjadi
Blogde alias blogger ndeso. Tunggu
kisahku besok. Masih dari Desa Undaan.
#ODOP #estrilook #day4























