This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 04 Januari 2019

4. Rewang Menjaga Tradisi Gotong Royong di Desa Undaan


Hidup di desa memang enak. Apalagi setiap ada hajatan, pasti semua tetangga membantu. Tradisi gotong-royong masih mengakar kuat di desa. Berbeda dengan di kota yang cenderung sendiri-sendiri. Bahkan tetangga depan rumah pun tidak kenal. Di desa sebaliknya. Semua kenal satu sama lain. Kalaupun tidak kenal, biasanya karena sudah merantau lama di ibukota. Maklum di desa ada setiap tahun pasti ada kelahiran dan kematian. Aku pun termasuk yang tidak hafal dengan pendatang baru.
Aku sekarang tinggal di Desa Undaan Kidul. Kebetulan kemarin ada hajatan di sebelah rumah. Ada tradisi namanya rewang (Bahasa Jawa) artinya bantu, bukan pembantu. Rewang artinya membantu orang yang punya hajat. Bantuannya berupa tenaga dan materi. Selain membantu tenaga dari awal hingga akhir acara, biasanya ketika datang pertama orang yang mau rewang membawa barang atau uang.
Nominal uang atau barang mengikuti adat kebiasaan setempat. Tentu saja seiring dengan perkembangan zaman. Masing-masing desa mempunyai ukuran berbeda. Desaku sebelumnya Kwatangan, menggunakan uang untuk membantu orang yang hajatan. Sedangkan Desa Undaan Kidul menyumbang barang berupa beras, mi, dan gula pasir. Bila masih saudara ditambah uang.
Di Undaan, kalau ada hajatan, hampir sedesa datang untuk rewang. Biasanya mereka datang sehari sebelum hari H. Acara dimulai dengan mengirimkan nasi ke seluruh penduduk desa. Nasi ini ditempatkan di panci/tempat nasi dari plastik. Isinya nasi, lauk, sncak, dan krupuk. Setelah itu dibungkus dalam tas plastik.
Aku kebagian membantu menyiapkan snack untuk esok hari. Padahal di Kota Tangerang tidak pernah membuat snack. Untung cuma bantu di bagian lemper. Makanan yang terbuat dari ketan dengan isian srundeng manis. Orang-orang sempat menggodaku. Mungkin karena aku lama di kota, dikira tidak bisa memasak. Alhamdulillah masih bisa bantu membungkus lemper.
Paginya aku masih rewang. Kali ini kebagian di depan kompor. Masih membantu membuat snack. Ada wingko goreng, bakwan, dan pisang goreng. Soal wingko ini ada ceritanya. Rencana mau dibuat bentuk bulat, tetapi tidak bisa. Adonannya terlalu lembek. Jadi, daripada mubazir, dibuatlah wingko goreng. Luamayan dapat ilmu baru. Rasanya sama dengan wingko khas Semarang. Adonannya juga sama. Perbedaannya di cara memasak. Wingko Semarang dibakar, wingko Undaan digoreng.
Makanan yang dibuat untuk hajatan ukurannya dibuat kecil. Cara penyajian diletakkan di piring dan disuguhkan di meja. Ada yang bertugas menata dan menyajikan kue.
Di hari H, untuk makan dan snack boleh ambil sendiri. Di Undaan, hajatan rata-rata prasmanan. Namun, ada petugas yang mengambilkan. Soal menu, tergantung kepada tuan rumah yang punya hajat.
Menu andalan pindang daging kerbau. Dari segi warna seperti rawon, hanya dari rasa sangat berbeda. Pindang daging kerbau lebih mak nyus. Penasaran, kan? Datanglah ke Kudus. Pasti akan ketagihan makanan pindang ini.
Perewang boleh pulang setelah tidak ada yang dikerjakan. Jadi, tidak harus menunggu hajatan selesai. Soalnya hajatan di sini bisa sampai malam. Bisa tepar kalau dituruti.
Esok paginya hanya beberapa orang yang rewang, karena tinggal bersih-bersih. Biasanya yang rewang hari sebelumnya dikirimi nasi sepanci dan lauk. Itulah tradisi rewang di Desa Undaan yang masih dipelihara. Aku senang masih bisa menyaksikan tradisi yang masih hidup hingga saat ini.
Aku tidak menyesal pindah ke Undaan. Ini pengalaman terindah. Menjadi Blogde alias blogger ndeso. Tunggu kisahku besok. Masih dari Desa Undaan.

#ODOP #estrilook  #day4

Kamis, 03 Januari 2019

3. Hajatan ala Orang Desa Undaan

Suara lagu dari speaker tetangga sebelah rumah terdengar jelas. Lagu dangdut yang dinyanyikan oleh artis ibukota menyambut pagiku. Sejak semalam aku sudah melihat tenda yang berdiri tegak di jalan dekat rumah. Warna tenda putih dilengkapi dengan meja dan kursi.
Para tetangga nampak hilir mudik di sekitar rumah tetangga. Suami sudah memberitahu semalam.
“Mbak Sumi tetangga sebelah menikahkan anaknya.”
Aku mengangguk. Bagiku pendatang sepertiku, belum tahu adat di Desa Undaan. Aku hanya mengikuti petunjuk suami. Badanku pun masih penat dari kemarin. Rasanya tulangku masih lemas, belum siap kalau diajak bekerja keras.
Andai bukan tetangga, rasanya aku malas datang. Apalagi aku baru menapakkan kaki di daerah ini. Masih banyak hal yang belum kuketahui.
“Adik harus bawa apa?” tanyaku pada suami.
“Bawa diri saja.” Suamiku menjawab asal.
“Adik tidak enaklah kalau cuma tangan kosong,” kataku.
“Nanti ikut emak saja.”
Suami masih belum menjelaskan. Emak memang sudah dari kemarin membantu di tetangga sebelah. Istilah di sini rewang. Sama dengan istilah di tempatku Desa Kwatangan, Bantul.
Emak membawa beras, mi, dan gula pasir. Tradisi Undaan begitu. Makanan tersebut diletakkan di panic ukuran sedang. Istilah di sini tembor.
Ketika sampai ke tempat Mbak Sumi, tembor diserahkan. Nanti pas pulang, tembor sudah diisi dengan nasi, seplastik gulai kerbau, dan snack.
Aku datang dengan adik ipar. Suami memintaku membawa uang saja. Aku mengiyakan. Kuberikan uang yang kubawa kepada tuan rumah. Di sini yang istri bawa uang, nanti suami juga bawa uang pas acara tahlilan. Nominal uangnya lebih sedikit dari istri.
Sampai di rumah yang punya hajat, langsung diberikan snack dan minuman. Tak lama nasi dan lauk gulai daging kerbau dihidangkan. Di Kudus kalau hajatan bukan sapi yang disembelih, tetapi kerbau. Hal ini merupakan tradisi turun temurun. Dari sejak zaman walisanga tidak ada penyembelihan sapi. Kalau kerbau diperbolehkan. Sunan Kudus sangat menghormati kaum Hindu. Sehingga, tidak ada sapi yang disembelih hingga hari ini.
Minuman yang dihidangkan saat hajatan adalah teh botol. Ini berlaku hampir di seluruh wilayah Kudus. Masyarakat Kudus tidak mau repot dengan mencuci gelas. Belum lagi kalau ada gelas yang pecah. Maka pilihan teh botol adalah alternatif yang paling tepat.
Makanan yang terhidang di meja adalah kue yang dibuat oleh para tetangga. Ada yang digoreng seperti pisang goreng, bakwan, kue bugis, dan lemper. Semua disajikan di piring dan diletakkan di atas meja. Minuman teh botol juga dihidangkan di meja. Jadi, tamu yang ingin minum, tinggal ambil saja.
            Tuan rumah akan menyambut tamu di depan. Makanan berat berjejer dan ada yang melayani. Para pelayan ini adalah pemuda dan pemudi yang dibayar untuk seharian. Biasanya di Undaan dari pagi sampai malam. Termasuk bagian sound system dan diesel.
      Aku sendiri tidak bisa membayangkan kalau hajatan model seperti ini. Berhari-hari dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi yang datang banyak banget. Bakal capek berhari-hari.

#ODOP #estrilook  #day3

Rabu, 02 Januari 2019

2. Adaptasi dengan Suasana Desa


Dingin menusuk tulang. Itu pagi pertama di Undaan. Badan pun masih pegal efek macet paska peresmian jalan tol lintas Semarang. Perjalanan dari Kota Tangerang yang harusnya sampai pukul 20.00 WIB, molor menjadi 22.30 WIB. Bus yang kutumpangi hanya berhenti sekali di Kedung Roso, Brebes. Setelah itu bus langsung tancap ke Tegal. Praktis sepuluh jam tanpa henti. Perut lapar dan mata mengantuk. Sampai rumah, aku langsung tidur.
Adaptasi di desa yang baru. Nama desanya Undaan Kidul. Mayoritas bermata pencaharian petani. Bahkan di belakang rumah padi menghijau memanjakan mata. Desa sepi. Semua penduduk sudah terlena dalam mimpi.
Sawah ibu mertua memang pas di belakang rumah. Begitu buka jendela dapur yang belum jadi, padi yang sedang tumbuh terlihat jelas. Pohon pisang berdiri di sepanjang jalan menuju sawah. Kebanyakan pisang kapok yang harganya mahal.
Ada rasa kangen dengan suasana kota. Terutama hiruk pikuknya. Di desa waktu serasa berhenti. Perjalanannya begitu melambat. Bila di Kota Tangerang, bangun pagi langsung bersiap ke kantor, menyiapkan sarapan, mandi, dandan, dan berjalan ke kantor.
Di desa aku menikmati ketenangan. Tidak ada hiruk pikuk atau suara pedagang menjajakan dagangan. Pagiku berubah. Selesai salat Subuh, aku bisa tidur lagi. Namun, itu tidak kulakukan. Kebiasaan sejak kecil yang terbangun pukul 03.00 WIB, membuat mataku tetap melek. Hanya pagi pertama, aku masih tiduran di atas kasur. Rasanya enggan bangun.
 Suara bising kendaraan semalam masih terngiang di telinga. Demi taat kepada suami, kutinggalkan Kota Tangerang dengan semua kenangan yang pernah ada.
Enaknya hidup di desa, air tidak beli. Semua pakai air sumur. Biasa menghemat air, di rumah kontrakan, kini aku menikmati air yang melimpah, bersih, dan gratis. Aku tidak perlu begadang menunggu air. Selama empat bulan di rumah kontrakan, bisa dipastikan aku dan suami hidup hemat air. Apalagi air kadang hidup, kadang mati. Jadilah kami membeli bak penampungan air untuk memenuhi kebutuhan mandi dan cuci baju. Untuk minum, ya beli air galon bermerek.
Desaku sekarang bebas polusi. Apalagi suami sudah lama tidak merokok. Udara yang kuhirup sangat segar dan menyehatkan. Cocok untuk terapi hidup sehat. Pepohonan rindang, sungai jernih, rumput yang menghijau, dan tegur sapa masyarakat desa. Damai rasanya.

#ODOP #estrilook  #day2

Selasa, 01 Januari 2019

1. Bali Wae Ning Ndeso (Pulang Saja ke Desa)


Ini adalah perjalanan panjang yang membutuhkan pemikiran matang. Apalagi bagiku yang sudah akrab dengan kehidupan kota sekian tahun lamanya. Wacana pulang kampung sudah bergulir sejak kakakku sakit dua tahun lalu. Aku yang saat itu belum menikah, mulai galau Antara ikut pulang ke desa atau tetap bertahan di kota. Selama ini aku tinggal dengan kakak. Kalaupun berjauhan itu karena tugas.

Aku terbiasa hidup merantau. Dari Bantul ke Kota Tangerang, lalu ke Bireun, berlanjut ke Pidie, pulang ke Kota Tangerang, dan bekerja di Tangerang Selatan. Membayangkan hidup desa itu jauh dari pikiranku.

Hari berlalu. Solusi pun sudah kudapat. Andaikan kakak harus tinggal di desa, aku memilih tetap tinggal di kota. Rasanya aku belum sanggup meninggalkan kemewahan kota. Aku terbiasa pindah dari satu tempat ke tempat lain, walaupun dengan angkot ataupun transportasi daring.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. September 2018 aku menikah. Mau tidak mau harus mengikuti suami kembali ke kampung halaman. Dan tepat di awal tahun seluruh hidupku berubah. Aku menjadi orang desa. Jauh dari hiruk pikuk kota. Semoga aku bisa betah di desa. 

Semua dalam hidupku berubah total. Dari gaya hidup, makanan, minuman, dan sebagainya. Baju yang kupakai pun tidak bisa seperti waktu di kota. Akan seperti apa hari-hariku mendatang? Simak terus ceritaku. 
#ODOP#estrilookcommunity#day1

Kamis, 06 Desember 2018

Lestarikan Pusaka Peninggalan Nenek Moyang di Museum Pusaka



Tanggal 27 Oktober 2018, saya berkesempatan mengunjungi Museum Pusaka karena diundang oleh mbak Dewi Yuliyanti dari Kemendikbud dalam acara Gebyar Pesona Museum Nusantara ke-4 mewakili Wonderland Family. Acaranya berlangsung dua hari, namun saya memilih datang di hari pertama.
Hujan mengguyur bumi, ketika saya sampai di lokasi. Acara talkshow fotografi pun sudah berlangsung. Arbain Rambey terlihat menjelaskan tentang kriteria fotografi budaya. Beliau juga menjelaskan kriteria foto yang menjadi pemenang lomba. Ada empat hal yang dinilai yaitu foto yang indah, bagus, menarik, dan berbicara.
Usai talkshow ada jeda istirahat yang saya gunakan untuk menjelajahi Museum Pusaka. Kali ini saya hanya mengunjungi lantai satu.
                             koleksi fuatuttaqwiyah

Lokasi Museum

Museum Pusaka terletak di jalur Selatan Taman Mini Indonesia Indah. Lokasi tepatnya berada di antara bangunan museum lainnya yaitu Museum Keprajuritan Indonesia, Museum Serangga, serta  Taman kupu-Kupu. Bentuk  bangunan limas ini terlihat lain dibanding dengan bangunan yang ada di sekitarnya. Kekhasan gedung terlihat dari atap yang terdapat bentuk keris yang menjulang.

Tujuan Pendirian Museum

Tujuan  Museum ini dibangun adalah untuk melestarikan, merawat, mengumpulkan, serta menjadi pusat informasi mengenai  budaya seperti senjata tradisional. Jenis  pusaka  yang ada di nusantara jumlahnya tidaklah sedikit. Pelestarian budaya menjadi sangat penting dilakukan guna memberi informasi kepada generasi penerus bangsa agar menjadi suatu  kebanggaan tersendiri  terhadap kekayaan budaya  bangsanya.  Di samping itu  dapat dimanfaatkan sebagai salah satu referensi studi dan penelitian mengenai senjata.
Mas Agung mengisi Museum Pusaka ini dengan koleksi pribadinya pada awal museum berdiri. Seiring dengan berjalannya waktu koleksi pribadi tersebut dihibahkan oleh Sri Lestari Mas Agung kepada Ibu Tien Soeharto selaku ketua Yayasan Harapan Kita. Selanjutnya untuk melengkapi koleksi, dilakukan dengan jalan pembelian  sehingga memiliki koleksi pusaka tradisional  dari 26 provinsi di Indonesia.. Dengan koleksi yang ada, museum ini bisa dibilang yang paling lengkap.
Museum Pusaka  terdiri dari dua lantai yang memiliki beberapa ruang, yakni ruang pameran, ruang informasi, ruang pengelola, ruang pertemuan, perpustakaan, ruang konservasi, dan ruang cinderamata.

Koleksi Museum Pusaka

Museum Pusaka ini setidaknya memiliki  5.749 koleksi benda pusaka, tetapi tidak semua koleksi dipamerkan semuanya. Beberapa koleksi disimpan dan dipamerkan sesuai giliran. Ruang pameran yang berada di lantai dua bersifat permanen. Adapun ruang yang berada di lantai satu disesuaikan dengan tema pameran yang berdurasi dua bulan. Adapun koleksi yang ada sebagian besar didominasi pusaka berupa keris. Hal tersebut dikarenakan keris hampir dimiliki oleh setiap daerah yang ada di tanah air dengan segala ciri khasnya masing-masing.
Disamping keris, museum ini juga mengkoleksi pusaka lain seperti badik, kujang, rencong, pedang, siwah, keris Bali, tombak, parang, dan lainnya.
                                        koleksi fuatuttaqwiyah


Koleksi Unggulan

Dari semua koleksi yang dimiliki oleh Museum Pusaka, ada beberapa koleksi pusaka yang menjadi unggulan, yaitu keris yang diberi nama Betok Budho yang beratnya sekitar 250 gram dan panjangnya 26 cm. Pusaka ini termasuk yang tertua. Konon berasal dari abad 8 yang bertepatan pada zaman Hindu-Budha yang berasal dari Klaten Jawa Tengah.
Ada pula pedang terpanjang yang mencapai 1,76 meter dan mendapat penghargaan dari MURI. Ada pula pusaka berupa keris dari zaman kerajaan Majapahit pada abad 8. Konon keris tersebut terbuat dari besi, baja, dan batu meteor.
                               koleksi fuatuttaqwiyah

Pusaka-pusaka tersebut merupakan kekayaan budaya khas nusantara. Di dalam pusaka mengandung nilai filosofis dan spiritualitas yang sangat tinggi. Sang pembuat pusaka yang akrab dijuluki sebagai empu juga bukan sembarang orang.
Empu dalam kamus KBBI ada dua pengertian yaitu satu, gelar kehormatan yg berarti "tuan"; dua, orang yang sangat ahli (terutama ahli membuat keris). Pusaka, khususnya keris biasanya memiliki energi khusus yang ditimbulkan tidak semata-mata dari material pembuatnya, tetapi yang terpenting adalah dalam proses pembuatannya. Seorang empu harus mempunyai spiritual yang tinggi, sehingga lantunan doa yang dipanjatkan mudah terkabul.
Museum Pusaka juga menggelar prosesi kirab budaya keliling TMII, yang diikuti oleh kebo bule, prajurit, gajah, dan tidak ketinggalan yaitu tumpeng. Kirab budaya tersebut merupakan salah satu cara untuk  melestarikan budaya nenek moyang yang sangat berharga  dan tidak ada duanya di dunia. Keris telah diakui oleh UNESCO pada 25 September 2005.
Di Museum Pusaka kita bisa belajar banyak tentang sejarah pusaka yang menjadi warisan budaya. Koleksi pusaka dikaji dan diteliti sejarah asal usulnya. Hal tersebut sangat penting untuk dipublikasikan dan disampaikan kepada para pengunjung.
Khusus para penggemar benda pusaka, Museum Pusaka juga melayani pemesanan pembuatan keris dan lainnya. Jam buka museum dimulai dari pukul 08.00-16.00 WIB. Harga tiket Rp10.000,00. Untuk transportasi ke museum bisa menggunakan bus Trans Jakarta jurusan Taman Mini Indonesia Indah. Jangan lupa siapkan stamina, karena jarak pintu masuk ke Museum Pusaka sangat jauh bila berjalan kaki.
Acara hari itu ditutup dengan Dramatari Sumpah Putra Nusantara yang sangat menarik. Pertunjukan berdurasi satu jam tersebut begitu memukau penonton

                                     koleksi fuatuttaqwiyah
 Mari kita lestarikan pusaka warisan adiluhung bangsa. Terima kasih Kemendikbud, Museum Pusaka, mbak Dewi Yuliyanti, dan Wonderland Family. 
#cagarbudaya
#budayabangsa


Rabu, 21 November 2018

Tampil Cantik dengan Lipstik Emeli


Berpenampilan cantik dan elegan  adalah dambaan para wanita. Penampilan cantik dan mempesona seakan-akan menjadi segala-galanya, soal materi dipandang nomer dua. Tidak mengherankan perkembangan tempat-tempat perawatan kecantikan dan sekaligus show room produk kecantikan banyak menjamur terutama di kota-kota besar.

Bagi yang bedompet tebal, produk kecantikan yang bermerek dengan harga mahal bisa dibeli, tetapi bagi yang isi dompetnya pas-pasan menjadi masalah tersendiri. Mengingat tidak semua produk kecantikan yang beredar di pasaran itu aman digunakan, banyak sekali yang mengandung bahan-bahan kimia yang membahayakan bagi kesehatan kulit. Kebijaksanaan dalam berbelanja kosmetik, sangat diperlukan, agar bisa tampil cantik dan ramah  dompet. Meskipun banyak juga yang memilih  untuk tampil natural tanpa make up yang menor atau  berlebihan  dengan alasan tertentu, misalnya kulit yang sensitif, harga mahal, dan lainnya.

Saya  yang berprofesi sebagai seorang guru setiap hari dituntut  berpenampilan selalu segar, terlihat cantik dan elegan. Hal tersebut membuat lebih percaya diri di depan teman-teman seprofesi dan para murid. Saya sangat beruntung mengajar di sekolah yang memperbolehkan para guru berdandan dengan ketentuan  tidak boleh berlebihan. Saya sendiri dalam hal pemakaian make up bisa dibilang sangat sederhana, yaitu hanya memakai bedak, lipstik, dan celak mata. Saya termasuk simple dalam penampilan. Bahkan dalam memilih produk kecantikan juga sangat simple termasuk memilih  lipstik. 

  Saya sangat hati-hati dalam memilih lipstick. Apalagi sekarang ini marak sekali lipstik yang dapat membahayakan kesehatan kulit. Berbagai produk sudah saya coba, termasuk produk yang sering jumpa melalui iklan baik di media cetak, elektronik, maupun melalui media sosial.

Lipstik Lipmatte Emeli

 Lipstik Emeli menjadi pilihan saya. Kenapa Emeli? Di samping  banyak pilihan warna, lipstik Emeli ketika dipakai teksturnya terasa lembut di bibir, menebarkan aroma wangi, tahan lama, dan harga yang ditawarkan sangat terjangkau.
Yang juga perlu diperhatikan lipstick Emeli telah mendapat ijin edar dari departemen terkait, aman digunakan, dan tidak menganggu kesehatan kulit.

Pilihan Warna


Ada delapan pilihan warna yang ditawarkan, yaitu juicy berry, cute peach, nude pink, sweet rose, red rose, dan lain-lain. Kalau saya memilih nude pink, warna bibir. Jadi, tidak terlihat seperti dandan. Ringan, awet, dan lembut. Tiga alasan itu yang membuat saya memilih lipstick warna nude pink. Say pun terlihat lebih cantik.

Harga

Harga lipstick emeli sangat ramah di kantong, yaitu Rp48.000,00. Masih terjangkau untuk kalangan menengah ke atas.

Sertifikasi Halal

Lipstik ini sudah mendapatkan sertifikat halal dari MUI. Jadi, bagi yang mencari keberkahan dan kehalalan kosmetik, produk ini bisa dicoba.

Cara Pakai

Lipstik Emeli sangat mudah dipakai. Cukup dibuka tutupnya dan oleskan secara merata pada bibir. Sangat mudah, bukan?

Kandungan Lisptik

Kandungan lipstick Emeli antara lain: jojoba oil, macadamia oil, phytosqualane, dan bahan lainnya. Lipstik Emeli juga sudah mendapatkan sertifikat CPKB yaitu Cara Produksi Kosmetik yang Baik. Satu lagi kandungan Emeli yakni bebas pengawet.

Fast Respon

Ini yang paling disukai konsumen. Selama ini saya belum pernah dikecewakan dengan pelayanan Emeli. Bahkan, bila diminta cepat pun, sangat bisa. Terutama di Jabodetabek. Pengiriman barang dari Kota Tangerang dan menggunakan ekspedisi JNE.

Packaging

Meskipun belanjanya hanya satu lipstick dan mungil, pengirimannya tetap menggunakan kotak. Agar kemasan lipstik tidak rusak. Sayangnya, kotak kemasannya sudah saya buang. Jadi tidak bisa melihat kemasan kotaknya.

Ingin mencoba lipstiknya? Silakan kontak FB: Helya Hilmy, IG: Emelicosmetics, FP: Emelicosmetics, atau WA: 0896-0554-6787.



Jumat, 16 November 2018

Mengubah Telaga Biru Cisoka Menjadi Destinasi yang Mendunia

Mengubah Telaga Biru Cisoka Menjadi Destinasi yang Mendunia
Dahulu orang hanya mengenal Cisoka sebagai daerah penambangan pasir. Sejak tahun 1999-2005 aktivitas penambangan tersebut dilakukan secara terus menerus. Ketika pasir sudah tergerus, penambang pun meninggalkan kawasan tersebut begitu saja.
Masyarakat Cisoka pun membiarkan kawasan penamabnagan pasir seperti apa adanya. Berlubang besar dan tak terurus. Seiring perjalanan waktu, perubahan alam pun terjadi. Guyuran hujan terus menerus menjadikan bekas galian pasir tergenangi air. Makin lama volume air semakin banyak. Dan terbentuklah danau.
Air yang dulunya keruh kini perlahan menjadi jernih. Tiga danau baru pun terbentuk dengan tiga warna yang berbeda. Danau hijau yang sangat luas, danau biru, dan danau putih.
Awalnya masyarakat membiarkan Telaga Cisoka begitu saja. Seiring banyaknya pengunjung yang penasaran, maka sejak tahun 2015 mulai dilakukan penataaan oleh masyarakat sekitar telaga.

Tiket Masuk

Hingga tulisan ini dirilis, belum ada biaya tiket masuk ke lokasi.  Pengunjung hanya dikenakan biaya parkir sepeda motor Rp2.000,00 dan mobil Rp10.000,00. Sangat murah bukan? Dan ini tidak tergantung dengan jam. Jadi, pengunjung tidak perlu mengeluarkan dana lagi untuk kelebihan jam seperti di mal dan pusat perbelanjaan lainnya.
Tempat parkir yang tersedia juga masih sangat sederhana. Terbuat dari triplek dan beratapkan seng. Lantainya pun masih menggunakan tanah. Pengelolanya adalah masyarakat Cisoka baik perorangan maupun kelompok.

Rute

Ke Cisoka paling enak menggunakan kendaraan pribadi baik sepeda motor maupun mobil. Bila menggunakan angkutan umum, masih harus menggunakan kendaraan lanjutan, seperti gojek atau grab. Bila menggunakan moda transportasi kereta api, bisa naik dari Stasiun Tanah Abang Jakarta ambil jurusan Maja turun di Stasiun Tiga Raksa. Dari sana tinggal melanjutkan perjalanan dengan ojek ke lokasi.

Keindahan Telaga Biru Cisoka.
                              koleksi foto Fuatuttaqwiyah

Menapakkan kaki di pintu masuk area wisata Telaga Biru Cisoka, akan disuguhi tiga danau yang begitu memesona.  Pemandangan nan elok disuguhkan dari keindahan alami warna air danau yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Perbedaan warna tersebut dikarenakan proses alami. Di samping tingkat keasaman air,  juga karena ganggang yang tumbuh di dasar danau. Telaga dengan warna air biru dengan latar belakang tebing pasir, dan di sampingnya terdapat telaga dengan air berwarna putih berpadu indah dengan keindahan alam sekelilingnya.
Keindahan  tidak berhenti di situ. Hanya butuh berjalan sedikit saja didapati telaga yang berbeda dengan dua telaga yang terdahulu. Telaga ini lebih besar dari yang sebelumnya, Airnya berwarna hijau dengan latar belakang pepohonan hijau di pinggir  telaga.

Kawasan Wisata Bebas Sampah

Penjaga Telaga Cisoka sangat menjaga kebersihan danau. Pengelola tidak ingin keindahan telaga tercemari oleh sampah yang dibawa oleh pengunjung. Setiap jam ada petugas yang memunguti sampah. Ia akan berkeliling dengan perahu mengambil sampah yang ada di dalam telaga dan sekitarnya. Alat yang digunakan pun sangat sederhana, yaitu potongan bamboo dan tas kresek sebagai tempat sampah.
Bebas sampah juga diterapkan kepada pedagang yang ada di sekitar lokasi Telaga Cisoka. Para pedagang memang berasal dari masyarakat asli Cisoka. Mereka tidak ingin sampah membuat pengunjung pergi dari tempat wisata. Jadi, bagi yang suka membuang sampah sembarangan, harus berkaca dari kearifan lokal masyarakat ini.
Pedagang membuka dagangan hanya Sabtu dan minggu. Dagangan mereka hanya makanan ringan, mi, dan minuman. Kopi dan es menjadi minuman favorit pilihan pengunjung. Sayangnya belum ada kopi lokal yang dijual. Padahal ini bisa untuk mendongkrak wisatawan.

Kawasan Bermain Buat Anak

Selain telaga, ada fasilitas kolam renang. Ada kolam renang untuk anak-anak dan dewasa. Di kolam renang, ada permainan buat anak-anak. Airnya bersih dan segar.

Perahu

Selain keindahan, bagi yang ingin merasakan suasana di atas air telaga, bisa berkeliling menggunakan perahu. Hanya dengan Rp20.000,00 per orang. Bisa juga foto-foto di atas perahu menggunakan properti pengelola. Ada topi, kaca mata, ayunan, dan sebagainya.
Air danau yang jernih membuat tangan dan kaki ingin merasakan kejernihannya. Pengunjung bisa menyentuh air dengan tangan menggunakan perahu. Pengelola sangat ramah dan menjaga pengunjung. Asal mengikuti arahan pengeloa, dijamin aman dan selamat.

Promosi Telaga Cisoka ke Seluruh Dunia

Hingga saat ini Telaga Cisoka memang belum mendunia. Satu hal yang bisa dijual ke wisatawan adalah keindahan alam dan bebas sampah, Ikon bebas sampah, kearifan lokal harus digaungkan. Bukan hal yang aneh,  tempat wisata di Indonesia kalau sudah terkenal, sampahnya menggunung.
Saat ini pengelolaan sampah di Telaga Cisoka masih ditangani warga dengan cara dibakar. Belum ada edukasi penanganan sampah dari dinas terkait.
Untuk mendunia perlu dibuat program yang berkelanjutan, antara lain
1.                  Melibatkan Masyarakat Lokal ( Cisoka) dalam Setiap Pengambilan Keputusan. 
Ini menjadi penting, karena jangan sampai masyarakat ditinggalkan dan tidak dipakai. Akan terjadi konflik besar di kemudian hari.
2.                  Pengelolaan Sampah Terpadu
Air akan terus ada, bila sampah dikelola. Kawasan ini ikonnya adalah air, tentu harus dijaga sedemikian rupa. Jangan sampai air keruh dan hanya tinggal nama.
Dinas terkait dalam hal ini lingkungan harus mendidik warga pengeloaan sampah yang baik dan efisien. Agar lingkungan tetap nyaman dan sehat. Tempat sampah juga perlu diletakkan di lokasi.
3.                  Pembagian Pengelolaan Dana Parkir.
Sebelum ada tiket resmi, harus jelas siapa yang mengelola dana parkir. Biasanya bila berhubungan dengan uang bisa menyulut peperangan.
4.                  Edukasi pengunjung
Perlu dibuat aturan baku bagi pengunjung di Telaga Cisoka. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di sana. Agar semua sama-sama nyaman antara pengunjung dan pengelola.
5.                  Jalan ke lokasi
Perlu dibuat papan penunjuk arah yang jelas. Bila perlu dibuat jalan yang lebar atau petugas yang mengarahkan ke lokasi.
6.                  Industri lokal
Ikon oleh-oleh khas Telaga Cisoka. Saat ini belum ada dan dibuat. Sehingga masyarakat bisa mengenalkan Telaga Cisoka ke dunia.
 7.                  Promosi di Media Sosial
Penggunaan media sosial sangat penting. Ulasan tentang Telaga Cisoka bisa menjadi nilai tambah bagi masyrakat Banten. Sehingga, harapan tempat ini mendunia bukan hanya wacana.

#BantenExpo2018
#HajatAgeng
#KontesKaryaUntukBanten