This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 11 Januari 2019

10. Kado Jam Tangan Tauhid dari Kota Tangerang


                                  jam tangan tauhid perempuan eladiba.blogspot.com
Pagi hari sebuah pesan masuk di WA pribadi.
“Pak, minta share lokasi rumah. Saya mau mengirimkan barang.”
Aku sempat berpikir sejenak dan baru ingat beberapa waktu lalu ada teman yang mengirimkan foto kado. Mungkin ini barang yang dimaksud.
Sejak pindah ke Kota Kudus, semua alamat pengiriman barang dan buku berpindah. Aku pun masih menggunakan nama suami untuk pengiriman. Maklum belum terkenal di Undaan Kidul.
Usai menerima pesan WA aku menyerahkan gawai ke suami untuk menjawab. Maklum aku masih buta daerah Kudus. Suami pun menuliskan pesan di WA.
“Pak, ini masuk kampung apa tidak?” Petugas ekspedisi masih bertanya juga. Memang serba salah sih kalau tinggal di desa. Akhirnya depan rumah kufoto dan langsung kukirimkan ke petugas ekspedisi.
“Siang nanti saya antar, Pak.”
Aku tersenyum. Bukan kali pertama aku dipanggil Pak. Sudah sering banget. Apalagi ini di dunia maya.
Dulu waktu dinas di Aceh, di tiket pesawat selalu tertulis Mr alias mister. Begitu juga di SMS dan email. Kalau di facebook mungkin karena ada nama belakang jadi tidak pernah mengira laki-laki.
Balik lagi ke barang. Agak siangan petugas datang. Kupikir barangnya besar. Ternyata kotak kecil. Aku pun penasaran membukanya. Kugunakan gunting karena semua tertutup plastik.
Ada dua kotak kecil di balik bungkus kado. Aku pun membuka salah satunya. Ternyata berisi sepasang jam tangan tauhid karena bertuliskan lafal laa ilaha illallah. Warnanya hitam dan putih. Jam warna putih untukku dan yang hitam untuk suamiku. Padahal aku baru berencana membeli jam tangan untuk suami. Eh ada yang memberi. Alhamdulillah rezeki anak yang salih.
                             jam tangan tauhid couple eladiba.blogspot.com
Jam tangan ini dipacking dengan sangat bagus, Benda mungil ini jadi kelihatan cakep dan elegan. Selain itu angka ditulis menggunakan Bahasa Arab. Cocok dipakai untuk orang yang sedang belajar agama.
Kado jam ini sangat berharga. Artinya aku dan suami diingatkan untuk menjaga waktu, karena ia tidak bisa kembali.
Terima kasih bu Hawil yang sudah memberikan kado terindah buat pernikahan kami. Bagi yang ingin memiliki jam tauhid ini bisa kontak saya.
#jamtangan

#ODOP #estrilook  #day10

Rabu, 09 Januari 2019

9. Bekerja Dari Rumah


Resign dari kantor menjadi pilihan terbaik ketika kebersamaan dipertaruhkan. Sejak menikah, aku dan suami sudah sepakat untuk tidak jauh-jauhan. Cukup Dilan yang berat menahan rindu, aku tidak.

Bagi aku yang sudah terbiasa bekerja dan bergerak, pilihan resign adalah cobaan yang berat. Ada sekitar 2 bulan, sebelum memutuskan untuk mengundurkan diri dari kantor, tempat selama ini mengabdi. Apalagi harus berpisah dengan anak murid yang sudah sekian bulan akrab denganku. Beruntung aku mundur di saat para murid liburan akhir tahun. Sehingga aku tidak perlu melihat air bening menetes dari mata.

Suamiku sering bilang, penulis itu bisa bekerja di mana saja. Tidak harus terikat di satu tempat. Oleh karena itu, bismillah aku resign.

Adaptasi sudah selesai. Saatnya mulai menata rumah sebagai kantor. Pekerjaan rumah memang masih banyak. Maklum, rumahku masih jauh dari kata layak. Rumah suamiku maksudnya.

Awal menikah memang kondisi rumah belum jadi. Baru ada beberapa kamar. Targetnya memang tahun depan baru kuperbaiki.

Ternyata sesuai dengan rencana. Begitu sampai di rumah, yang kulakukan awal adalah meneruskan pembangunan rumah. Beruntung suamiku bisa mengerjakan sendiri dibantu sama adik.

Alhamdulillah, rumah sudah lebih baik. Tinggal menyelesaikan hal kecil seperti atap rumah, mengecat dan sebagainya.Di sela-sela membangun rumah, aku sempatkan untuk menulis. Alhamdulillah, meski di desa, aku masih bisa daring. Sehingga transferan pun tetap mengalir. Malah berlebih dibanding waktu di Kota Tangerang.

Diam-diam suami pun sudah merancang ruang kerja untukku. Meja, kursi, dan rak buku.
Bekerja dari rumah memang enak. Tidak perlu pakai baju resmi. Apalagi sepatu. Modal gawai dan laptop.Namun, ada beberapa hal yang perlu diingat ketika memutuskan bekerja dari rumah.

Tips Bekerja dari Rumah:
1.    Buat deskripsi pekerjaan yang jelas.
Dari awal menulis, aku selalu mengatakan sebagai guru yang bisa menulis. Seiring waktu aku juga mengedit tulisan dan menjadi mentor menulis.
2.    Buat jam kerja kantor.
Ini penting, biar enak kerjanya. Bekerja teratur di jam yang sama akan membuat semua efisien.
3.      Buat to do list harian
Saya menggunakan Daily Activities for Mom Indscript untuk menulis kegiatan harian. Apalagi bisa dihapus. Produknya cocok banget untuk orang yang pelupa semacam saya.

4.      Lakukan evaluasi berkala.
5.      Pilih provider yang menunjang kegiatan bisnis dan nulis.
Soalnya tiap daerah berbeda-beda kekuatan sinyal providernya. Aku mencoba semua kartu hingga menemukan provider yang cocok.
6.      Usahakan tetap rapi, wangi, dan cantik ketika bekerja.
Biar menulisnya semangat. Itu yang kulakukan saat ini. Aku melakukan aktivitas dalam keadaan rapi dan wangi. Tentu sudah mandi dan sarapan.

Rutinitasku tetap. Pukul 08.00-12.00 saatnya berkerja. Menulis, membalas klien, riset, dan membaca referensi.
                         jam tangan foto koleksi Fuatuttaqwiyah

Semoga tipsnya bisa membantu teman-teman yang memutuskan bekerja dari rumah.

#ODOP #estrilook  #day9

Selasa, 08 Januari 2019

8. Gethuk Pasar Wage Undaan

Ini masih tentang makanan. Kali ini tentang gethuk. Salah satu makanan yang paling laris di Pasar Wage. Sebagai pendatang baru di Undaan, mencicipi makanan tradisional menjadi kenikmatan tersendiri. Apalagi lokasi pasar yang sangat dekat dengan rumah. Cukup jalan kaki, berdua sama suami, sudah sampai pasar.

Pedagang gethuk biasanya sudah diserbu pembeli. Pernah aku dan suami datang agak siang, gethuknya sudah habis. Padahal pedagang gethuknya banyak. Tetap saja gethuk cepat habis.
Gethuk biasanya diletakkan di tampah. Warna pun banyak. Ada merah, kuning, hijau, cokelat. Ada juga ketan, tiwul, dan cenil yang digunakan sebagai campuran.

Pedagang gethuk ada yang sudah tua, setengah tua, dan masih muda. Semua pedagang gethuk sangat ramah. Di Pasar Wage Undaan ini, ada sekitar enam pedagang gethuk. Semua dengan ciri khas yang berbeda. Ada yang memakai horog ( makanan khas Jepara). Ada yang hanya dua macam, gethuk warna hijau dan kuning.
Pedagang gethuk biasanya menggunakan tenggok sebagai penyangga tampah. Barang yang tidak lupa dibawa adalah parut. Mereka lebih suka memarut kelapa sebagai toping di atas gethuk. Tanpa kelapa, rasa gethuk akan hambar.

Gethuk paling enak disantap selagi hangat. Kalau mau dingin, tidak apa-apa. Bila mau disimpan untuk sore hari, mintalah tanpa kelapa.

Harga Gethuk

Harga gethuk mulai dari Rp500,00-Rp2.000,00. Ada juga yang beli Rp5.000,00. Kebanyakan beli kisaran harga seribu atau lima ratus rupiah. Murah, bukan?

Bungkus Gethuk

Ada tiga bungkus gethuk yang dipakai. Daun pisang, jati, dan kertas minyak. Di Pasar Wage Undaan, yang memakai kertas hanya satu pedagang gethuk. Selebihnya mereka menggunakan daun jati atau pisang.

Daun pisang atau jati memang membawa citra rasa tersendiri. Bau alami membuat kenangan menari di pelupuk mata. Sok sentimentil. Padahal antara jati dan pisang jelas berbeda.

Antrean Beli Panjang

Pedagang yang paling banyak antreannya ya gethuk. Pembeli menyerbu pedagang gethuk sampai tidak kelihatan tubuh penjual dan gethuknya. Bahkan para pedagang sayuran keliling, sudah pesan duluan beberapa bungkus. Terkadang sampai berpuluh-puluh bungkus. Biasanya pedagang sayuran beli yang harga Rp500,00.
Tertarik untuk mencicipi? Segera ke Pasar Wage Undaan, yuk.
#ODOP #estrilook  #day8


Senin, 07 Januari 2019

7. Lentog Tanjung Kudus

Bila berkunjung ke Kudus, sempatkanlah ke Tanjung. Apalagi kalau bukan menikmati Lentog Tanjung. Pasti pada penasaran dengan menu kedua wajib ketika hajatan di Kudus. Selain Pindang kerbau, lentog menjadi andalan makanan hajatan, tasyakuran, ataupun pengajian.
Pertama kali sampai di Kudus, waktu itu malam hari. Jalanan masih sepi. Namun, masih ada beberapa pedagang yang menjajakan dagangannya. Salah satunya adalah penjual lentog.

Jujur, aku kaget dengan makanan khas Kudus ini. Soalnya di rumahku Bantul ataupun Kota Tangerang tidak ada. Ternyata makanan ini adalah menu khas Kudus kedua. Biasa dimakan di pagi hari atai malam hari, Siang hari jarang ditemukan pedagang lentog kecuali di pasar tradisional.
Setiap hajatan, lentog selalu terhidang dengan taburan daun bawang merah. Duh sedapnya.

Sejarah Lentog
Bicara lentog, tidak akan jauh dari daerah asalnya Desa Tanjungkarang, Kecamaran Jati, Kabupaten Kudus. Maka, lentog lebih terkenal dengan lentog Tanjung. Asalnya hanya di Desa Tanjung, namun kini sudah menyebar ke seluruh pelosok Kabupaten Kudus.

Isi Lentog Tanjung
Lentog adalah lontong yang panjang dan sebesar betis orang dewasa. Lentog dibungkus menggunakan daun pisang. Sehingga bau daun pisangnya menguar sedap. Berarti masyarakat sejak dulu sudha go green.

Cara Makan
Lentog diletakkan di piring setelah sebelumnya dipotong kecil-kecil menggunakan pisau. Tambahkan sayur nangka muda dan lodeh tahu. Makannya tidak menggunakan sendok, tetapi suru ( sendok dari daun pisang). Piringnya dialasi daun pisang  sebelum diberi lontong.

Lauk Tambahan
Masyarakat Kudus memakan lentog dicampur dengan telur puyuh, daging ayam, atau sate ayam. Aku memilih tidak ada campurannya. Biar bisa merasakan cita rasa awal dari lentog. Sayangnya waktu malam itu tidak sempat memfoto karena sudah capek banget. Jadi, inginku cuma tidur di atas kasur.

Harga Lentog
Harga seporsi lentog sekitar Rp5.000,00-Rp10.000,00. Harga bervariasi karena tergantung dari makanan tambahan yang diambil. Apalagi kalau jumlahnya banyak.
Resep Lentog Kudus
Resep ini diambil dari Sartika Widowati di cookpad.com.
Bahan kotokan/opor tahu:
·     4-5 buah tahu putih
·     Secukupnya udang/bandeng
·     1 bungkus santan instan
·     6 butir bawang merah
·     4 butir bawang putih
·     2-3 butir kemiri
·     1 sdt ketumbar
·     1/4 sdt lada halus
·     1 lembar daun salam
·     2 cm lengkuas
·     1 batang serai, memarkan
·     1 lembar daun jeruk
·     1/2 gelas air
·     Secukupnya gula merah
·     Sedikit garam, gula, penyedap rasa
·     Minyak goreng untuk menumis

Bahan sayur nangka:
·     1/4 buah nangka muda, cincang
·     1/2 bungkus santan instan
·     3 butir bawang merah
·     3 butir bawang putih
·     1 butir kemiri
·     1 lembar daun salam
·     1-2 cm lengkuas
·     1,5 gelas air
·     Secukupnya garam, penyedap rasa

Bahan pelengkap:
·     3 buah lontong
·     Sambal / cabe rawit
·     Bawang goreng (wajib)
Langkah Membuat
1.      Rebus nangka muda yg telah dicincang sampai benar-benar empuk, lalu ulek sampai halus2.
2.      Haluskan bumbu sayur nangka
3.      Rebus sayur nangka dengan bumbu, daun salam dan lengkuas
4.      Tambahkan santan, encer saja. Beri garam, penyedap rasa, koreksi rasa
5.      Goreng tahu utuh, setengah matang, lalu potong segitiga tipis
6.      Goreng utuh bawang merah, bawang putih, dan kemiri
7.      Goreng setengah matang udang / ikan bandeng, lalu haluskan (jangan lupa buang duri / kulitnya ya). Ini adalah resep rahasia biar enak
8.      Haluskan bawang dan kemiri yang telah digoreng dengan ketumbar, lalu campurkan dengan udang/bandeng yang sudah halus
9.      Tumis sebentar daun salam, lengkuas, daun jeruk
10.  Beri air, tunggu sampai mendidih
11.  Masukkan tahu, bumbu halus, lada bubuk, santan (kental)
12.  Masukkan gula merah, gula putih, garam, penyedap rasa, lalu koreksi rasa
13.  Cara menghidangkan: potong lontong agak tipis, siram dengan kotokan tahu, tambah sayur nangka di pinggir piring, taburi bawang goreng.
14.  Bagi yg suka pedas bisa tambahkan sambal saat dihidangkan atau dengan potongan cabe rawit saat masak kotokan tahu
15. Semua bahan di atas tidak boleh di skip ya, karena akan mengubah rasa.
Silakan dicoba! Pasti akan ketagihan. Hati-hati nanti bikin gemuk. 

 #ODOP #estrilook  #day7

Minggu, 06 Januari 2019

6. Cari Provider yang Mendukung Kegiatan Daring


Tinggal di pedesaan ada plus dan minusnya. Plusnya sudah kubahas di cerita sebelumnya. Dari air yang melimpah, pangan yang sehat, sayuran tinggal metik di halaman, hingga udara bersih. Aku menikmati semuanya. Tentu dengan perjuangan tiada henti.

Proses adaptasi sudah kujalani. Sekarang tinggal mengakali bagaimana kehiduoan di sini tidak membosankan. Setidaknya pekerjaan daring tetap bisa kulakukan. Maklum, di desa. Bisa telepon dan SMS bagi masyarakat desa sudah cukup. Aku masih membutuhkan gawai untuk menunjang kegiatan menulis dan bisnis. Apalagi selama ini banyak orang sudah mengenalku sebagai konsultan Indscript. Akan banyak kegiatan daring yang kulakukan.

Memilih provider yang ramah di kantong, awalnya tidak pernah mampir di benak. Pasalnya, pulsa dan kuota masih banyak. Seiring berjalannya waktu, pulsa dan kuota internet pun habis. Aku dan suami pun mulai berburu provider yang mendukung kegiatan daringku.

Semua provider pun dicoba. Satu per satu kumasukkan ke gawai. Dari yang termurah sampai mahal. Terutama ketika jam sibuk. Bagaimana koneksi tetap lancar agar bisnis pun meroket.

Ada yang koneksi lancar, tetapi harga pulsanya sangat mahal. Tentu aku tidak mau ambil risiko untuk yang ini. Apalagi aku suka main aplikasi daring. Bisa-bisa sebulan beli pulsa lebih dari dua kali. Pengeluaran untuk pulsa akan semakin banyak.

Di Kota Tangerang, terkadang aku dapat pulsa dari menulis review pengajian. Namun, sudah hampir sebulan tidak ada lagi permintaan menulis review. Jadi, pulsa terpaksa beli. Lumayan menguras kantong karena provider yang kupakai sangat boros dan kuotanya terbatas.

Providerku yang lama tidak bersahabat dengan sinyal. Berulangkali terjadi kendali. Untuk mngunduh gambar, mutarnya lama banget. Jelas itu sangat menganggu kegiatan daring. Belum lagi di Indscript dituntut koneksi yang lancar. Kecepatan melayani pelanggan dan komunikasi antara pemilik Teh Indari dengan konsultan, membuatku akhirnya memilih provider yang harian dengan kuota besar.

Kuota yang besar menunjang kegiatan daring dan pembuatan flyer. Selama ini selain dapat dari Indscript, aku juga bikin gambar sendiri. Otak atik gamabar pakai canva, picsart, snapseed, dan sebagainya.

Akhirnya sampai pada pilihan provider yang nyaman buatku. Providernya tidak perlu disebutkan (nanti dikira iklan, wong nggak dibayar).

Provider yang kupakai sekarang, terkadang sinyalnya masih datang dan pergi. Maka, aku mulai menuliskan di buku. Pada pukul berapa provider  ngambek? Bagaimana mencari solusi yang menyenangkan. Akhinya aku membagi waktu. Kapan daring dan luring?

Waktu paling enak untuk daring adalah pukul 01.00-06.00. Waktu setelah itu sinyal sangat ramah. Maka, semua kegiatan kupindah sebelum Subuh. Aku pastikan sebelum pukul 06.00 semua postingan kelar, surat terkirim, riset pun sudah selesai. Siang aku tinggal membuat mind map, tulisan untuk esok hari, dan riset.

Semoga dengan provider sekarang, pekerjaan daringku semakin lancar. Amin.
#ODOP #estrilook  #day6


Sabtu, 05 Januari 2019

5. Pindang Kerbau Khas Kudus

                                                   foto: cookpad.com
Kudus memang terkenal dengan soto kerbaunya. Kapan-kapan kubahas tentang salah satu soto yang terkenal di Kudus. Kali ini aku mau membahas lanjutan tulisan kemarin. Tentang menu makanan berat khas Kudus ketika sedang hajatan.
Bila selama ini mengenal pindang ikan patin atau bandeng, di Kudus beda lagi. Pindang kerbau menjadi menu wajib hajatan. Sayangnya kemarin pas tetangga sedang ada hajatan, tidak sempat melihat prosesi penyembelihan kerbau. Apalagi melihat cara masak pindang. Namun, aku sempat makan pindang kerbau ini.
Sekilas pindang kerbau seperti rawon. Warnanya pun sama cokelat. Pengaruh dari keluak, sejenis bumbu yang membuat makanan menjadi cokelat. Rasanya gurih dan manis.
Kerbau memang dipilih masyarakat Kudus sebagai pengganti sapi. Semua pasti sudah mafhum, di Kudus, sapi tidak dipelihara. Hal ini sudah tradisi turun temurun menghormati keyakinan agama Hindu. Sebuah ajaran toleransi yang sudah mengakar di masyarakat. Hingga kini, tradisi ini masih dilestarikan.
                Daging kerbau lumayan enak. Aku pun belajar menikmati daging kerbau. Biasanya setelah disembelih dan dikuliti, posisi badan kerbau digantung di dekat tempat masak. Nanti sudah ada orang yang ditunjuk tuan rumah untuk mengolah daging tersebut menjadi pindang.
                Pindang Kudus kaya akan rempah yang akan membuat nambah. Bila tidak percaya, datang saja ke Kudus untuk mencicipinya. Warung makan yang menjual menu ini juga sudah banyak. Mau yang gratisan? Datang ke saudara di Kudus yang sedang hajatan.
                Penasaran ingin membuatnya? Bisa kok. Kalau tidak menemukan daging kerbau bisa diganti daging sapi. Beberapa restoran Jakarta sudah melakukan hal itu. Mungkin karena daging kerbau sangat sulit didapatkan di ibu kota negara.
                Aku coba memberikan resep yang kuambil dari cookpad.com, karya Nugraheni Septiningtyas.

                                              Resep Pindang Kerbau Kudus

             Bahan-bahan
            200 gr daging kerbau dan sedikit sanding lamur yang sudah direbus

200 ml kaldu dari rebusan daging kerbau

100 gr daun so (daun melinjo) muda
500 ml santan kelapa

Bumbu :
8 siung bawang merah
3 siung bawang putih
3 butir kemiri
2 buah keluak / kluwek yang diambil isi nya lalu disedu dg air panas
1 cm jahe memarkan
1    lembar daun salam
2        lembar daun jeruk purut
1 sdt garam
1       sdt jinten
1        sdt ketumbar
Sedikit pala
2        sdm gula merah
1       sdm asam jawa disedu dengan air panas sedikit kurang lebih 2 sdm
Sejumput terasi
Secukupnya minyak goreng untuk menumis

Pelengkap :
Bawang goreng, sambal cabai rawit rebus, kecap

Langkah membuatnya:
1.   Haluskan bawang merah, bawang putih, kemiri, keluak, garam, jinten, ketumbar, pala, terasi.
2. Tumis bumbu yang dihaluskan, masukkan daun salam, daun jeruk, jahe sampai harum lalu masukkan air asam.
3. Kemudian daging, kaldu dan santan dimasukkan ke dalam panci sayur lalu rebus hingga mendidih dengan sambil diaduk untuk menjaga santan agar tidak pecah.
4.   Masukkan bumbu yang telah ditumis dan gula merah.
5. Koreksi rasanya sesuai selera bisa ditambah kaldu bubuk. Ciri khasnya pindang di kudus cenderung manis.
6.    Penggorengan bekas menumis bumbu bisa digunakan lansgung untuk merebus daun melinjo.
7.  Sajikan dengan nasi dan pelengkapnya daun melinjo yang telah direbus, sambal soto (cabai rawit merah atau putih direbus terus diuleg), taburan bawang goreng, dan kecap sesuai selera.
8.  Enaknya dimakan panas. Jika telah dingin bisa dipanaskan kembali.
Demikian resep pindang kerbau kudus. Selamat mencoba!
#ODOP #estrilook  #day5