Minggu, 15 Oktober 2017

Menumbuhkan Minat Baca di Sekolah Dasar

Tingkat melek huruf di Indonesia sangat tinggi, yakni 98,2%, berdasarkan data UNDP 2014. Artinya negara ini sudah melewati tahap literasi awal. Semua warga bisa membaca. Namun, minat baca di Indonesia masih sangat rendah. Terutama di kalangan anak-anak sebagai generasi awal yang akan membawa bangsa ini ke depan. Persoalan ini bila tidak diatasi sejak dini akan membawa bangsa ini terpuruk di titik nadir.
Literasi dini seharusnya sudah mulai dikenalkan di lingkungan rumah, sebagai titik awal perkembangan literasi. Dialog dengan menggunakan bahasa ibu akan memperkaya kosa kata anak yang menunjang program literasi. Banyak orang tua yang tidak mau menggunakan bahasa ibu ketika mengobrol dengan anaknya. Padahal banyak bahasa daerah yang belum masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI).
Perilaku orang tua yang sudah mengenalkan gadget sejak dini juga membuat anak malas membaca. Anak lebih asyik main game baik on line maupun off line. Akibatnya anak lebih cepat menyerap bahasa kasar dan umpatan yang terdapat dalam aplikasi game.
Gerakan literasi nasional bergulir karena keprihatinan pemerintah dalam hal ini diwakili Departemen Pendidikan dan Kebudayaan akan kondisi literasi bangsa yang berada di titik bawah. Negara kita kalah dengan negara tetangga yang minat bacanya lebih tinggi dari Indonesia. Kemampuan anak-anak Indonesia juga belum menyerap kosa kata baru dengan maksimal.
Membaca dalam kBBI artinya  melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis(dengan melisankan atau hanya di hati), mengeja atau melafalkan apa yag tertulis, mengucapkan, mengetahui, meramalkan, memahami. Dari pengertian di KBBI aktivitas membaca  tidak hanya mengucapkan secara lisan, namun bisa dimaknai memahami. Persoalan yang terjadi di lapangan adalah anak bisa membaca, namun tidak tahu artinya. Ini Pekerjaan Rumah bagi semua orang yang peduli dengan nasib bangsa ke depan.
Minat baca seharusnya mulai diajarkan di rumah. Orangtua harus mulai membacakan cerita sejak anak masih bayi. Karena di sana ada banyak kosa kata yang bisa diajarkan kepada anak. Idealnya setiap hari seorang anak menerima kosa kata baru 5 dengan pengertiannya. Sudahkah itu dilakukan oleh orangtua? Sayangnya banyak orangtua belum melakukan hal tersebut karena sibuk.
Program literasi untuk SD
Program literasi untuk SD adalah literasi dasar yakni, baca, menyimak, dan menuliskan kembali cerita. Untuk menyukseskan program ini pemerintah menggulirkan program 15 menit membaca buku sebelum masuk Kegiatan Belajar Mengajar. Buku yang dibaca adalah selain buku pelajaran(Permendikbud No.23 Tahun 2015).
1.      Program 15 menit membaca
Apa yang bisa dilakukan selama 15 menit? Banyak hal bisa dilakukan. Untuk kelas bawah 1-3 adalah mendengarkan cerita. Setiap anak suka cerita. Apalagi kalau disampaikan dengan tehnik yang bagus. Anak akan ingat ingat tokoh dalam cerita tersebut. Seyogyanya guru kelas bawah menguasai tehnik bercerita. Bila perlu saat bercerita, guru melibatkan muridnya untuk menjadi tokoh dalam cerita tersebut. Kesan awal melihat dan mendengarkan cerita akan membuat anak tertarik untuk membaca buku.
Untuk kelas atas(4-6) sudah mulai meningkat tahapannya. Mereka diminta untuk menuliskan kembali cerita tersebut. Bisa menggunakan metode fish bone AIH( alasan tertarik cerita tersebut, Isi buku, dan Hikmah).
2.      Buku bacaan yang sesuai
Program membaca akan berjalan bila ada buku yang dibaca. Seyogyanya setiap SD mempunyai koleksi buku bacaan yang beragam. Dana Bantuan Operasional Sekolah(BOS) bisa dimanfaatkan untuk membeli buku bacaan. Terutama untuk SD yang jangkauan jauh dari ibukota negara. Koleksi bacaan yang beragam akan membuat anak mau membaca. Usahakan buku bacaan yang tersedia sesuai dengan tahap perkembangan motorik peserta didik.
Selain membeli, sekolah juga bisa mengunduh buku bacaan yang ada di website kemendikbud. Di sana banyak buku cerita yang bisa diunduh dan dicetak sesuai kebutuhan. Bahkan ada buku yang sudah dibagi untuk literasi SD, SMP, dan SMA. Bisa klik http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditkt/2017/08/17/buku-seri-pengenalan-budaya-nusantara-2016/. Isi website ini tentang cerita budaya nusantara.


3.      Pengaturan dan pemeliharaan buku bacaan
Dari awal buku bacaan tersedia, perlu diberitahukan kepada murid, bahwa koleksi tersebut adalah milik sekolah. Sehingga bila pinjam, koleksi tersebut harus dijaga tidak boleh rusak/hilang. Zaman dulu setiap buku pelajaran yang dipinjam dari sekolah selalu ada tulisan di cover buku bagian belakang. Buku ini milik sekolah, harap untuk menjaganya karena tahun depan adik kelasmu akan menggunakannya. Saat ini sepertinya hal ini bisa dilakukan kembali.
4.      Pojok buku di kelas
Setiap kelas sebaiknya mempunyai pojok buku. Setiap anak bisa membawa buku bacaan dari rumah. Bisa juga buku bacaan diambil dari koleksi perpustakaan. Pojok buku ini untuk menyediakan buku bacaan yang bisa dibaca setiap saat oleh siswa.
Sebelum diletakkan di pojok baca, sebaiknya guru memfilter buku bacaan terlebih dulu. Terkadang ada bahasa yang belum sesuai dengan tahap perkembangan motoric dan psikologis murid.
5.      Mengadakan acara membaca secara berjamaah
Semua murid dikumpulkan di aula. Kegiatan ini bisa dilakukan sebulan sekali. Guru, penjaga sekolah, satpam, pegawai kantin, dan komite sekolah bisa dilibatkan ke dalam kegiatan tersebut.
Semua yang hadir di acara tersebut diwajibkan untuk membaca. Seluruh peserta membawa buku dari rumah atau mengambil dari perpustakaan. Dalam waktu 15-30 menit membaca satu buku.
6.      Lomba Membaca Buku Terbanyak
Pustakawan sekolah mengadakan lomba peminjam buku terbanyak dan pengunjung terbanyak. Untuk Lomba Membaca Buku Terbanyak, anak diminta menuliskan semua buku yang telah dibacanya.
Untuk pengunjung perpustakaan terbanyak berdasarkan rekapan data dari pustakwan. Lomba ini berlaku untuk guru dan murid. Akan menjadi tantangan tersendiri bagi guru maupun murid.
7.      Mendokumentasikan karya peserta didik
Setiap kegiatan literasi di sekolah diarsipkan. Ketika ada kegiatan Peringatan Hari Besar Nasional, anak diminta menulis materi dalam kegiatan tersebut. Tidak hanya Peringatan Hari Besar, kegiatan wisata, kemping, kunjungan ke museum, dll bisa dikumpulkan dalam bentuk buku.
Kegiatan review buku untuk kelas atas, juga bisa disimpan dalam satu map besar, kemudian dijilid. Sehingga semua dokumentasi sekolah tertata rapi.
Semua tugas yang ada dokumen tertulisnya, bisa dibukukan. Ini yang kemarin disarankan dalam kegiatan Seminar Literasi November 2016.
8.      Membuat poster, majalah dinding, dan pojok karya
Kegiatan literasi juga bisa berupa menulis poster, memajang karya di pojok karya, dan membuat majalah dinding yang menampung karya murid. Setiap kegiatan ini harus ada satu guru yang membimbing.
9.      Melibatkan semua stakeholder sekolah dalam setiap kegiatan literasi.
Kegiatan literasi di SD bukanlah tanggungjawab guru Bahasa Indonesia dan kepala sekolah saja. Namun, semua pihak terlibat dengan porsi masing-masing. Karena kegiatan apa pun bila sendirian tidka akan berhasil. Sebuah kegiatan akan berhasil, bila dilakukan oleh semua orang secara bersama-sama.
Akhirnya cita-cita agar anak SD bisa memahami bacaan bukanlah impian semata. Saat ini program yang sudah berjalan di Depok dengan program West Java Leader’s Reading Challenge(WJLRC). Sebuah program dari pemerintah provinsi Jawa Barata untuk menantang para guru dan murid untuk membaca dan menulis selama 10 bulan. Program ini berakhir Juli 2017.

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Penulisan Artikel Ilmiah Sekolah Dasar 2017. 

2 komentar:

  1. Disekolah anakku juga ada pojok buku di kelas. Baru tahu kalau ternyata bagian dari program ini...

    BalasHapus